KemenPAN-RB Siap Periksa 31 Ribu PNS Penerima Bansos

KemenPAN-RB Siap Periksa 31 Ribu PNS Penerima Bansos
LambeTurah.co.id - Perihal adanya temuan data 31 ribu PNS penerima bantuan sosial, Mentri PAN-RB, Tjahjo Kumolo akan memeriksa data tersebut.

Pemeriksaan dilakukan untuk melihat apakah ada potensi pelanggaran yang dilakukan oleh PNS yang menerima bansos. Tjahjo meminta Menteri Sosial Tri Rismaharini untuk memberikan data lengkap dari PNS yang disebut menjadi penerima bansos untuk diperiksa.

Data itu terdiri dari nama lengkap, NIP, hingga instansi tempat PNS itu bekerja. Data itu diberikan kepada Pejabat Pembina Kepegawaian (PPK) di tiap instansi yang dimaksud untuk kemudian dilakukan investigasi lebih lanjut.

Unggah Soal Pengecut, Rumah Tangga Medina Zein Bermasalah?



"Untuk memberikan hukuman disiplin kepada PNS yang dimaksud, Menteri Sosial harus memiliki data lengkap nama, NIP, dan instansi atau lokasi pegawai yang dimaksud. Untuk kemudian dilaporkan kepada PPK masing-masing agar melakukan investigasi terhadap yang bersangkutan," ungkap Tjahjo dikutip dari detikcom, Kamis (18/11/2021).

Tjahjo Kumolo menilai perlu adanya pemeriksaan lebih lanjut kepada PNS yang disebut menerima bansos. Hal ini dilakukan untuk melakukan pengecekan apakah ada unsur kecurangan sehingga PNS itu mendapatkan bansos, atau memang hanya kesalahan pendataan.

Oleh karenanya, KemenPAN-RB meminta kepada Kementrian Sosial untuk memberikan data-data PNS yang disebut menerima dana bansos untuk diperiksa.

"Jika memang terbukti (ada pelanggaran) barulah dapat diberikan sanksi disiplin, termasuk pengembalian uang bansos," ungkap Tjahjo.

Mensos Risma sendiri mengaku sudah memberikan data-data PNS yang disebut menerima bansos ini kepada Badan Kepegawaian Negara (BKN). Totalnya ada ada sekitar 31.624 ASN yang masuk dalam data bansos. Dari jumlah tersebut, yang masih aktif menjadi pegawai negeri ada sekitar 28.965 orang.

"Setelah kami serahkan ke BKN itu di data yang indikasi PNS itu ada 31.624 ASN, yang aktif setelah dicek di BKN itu 28.965 yang aktif, mungkin sisanya pensiun," ungkap Risma dalam konferensi pers virtual DTKS.