La Nina Tingkatkan Curah Hujan di Indonesia Hingga Februari 2022

La Nina Tingkatkan Curah Hujan di Indonesia Hingga Februari 2022
LambeTurah.co.id - Badan Meteoroligo Klimatologi dan Geofisika (BMKG) kembali memonitor peristiwa La Nina. BMKG mengimbau pada warga di seluruh Indonesia untuk waspada akan terjadinya cuaca ekstrem.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan jika La Nina cukup berpengaruh terhadap peluang curah hujan di Indonesia. Fenomena La Nina berpotensi meningkatkan curah hujan di sejumlah wilayah di Indonesia.

"Kami mengimbau agar masyarakat mewaspadai potensi curah hujan lebih tinggi akibat kondisi La Nina. Tapi, La Nina ini bukan badai tropis ya," kata Dwikorita dalam konferensi pers, Senin (18/10/2021).

Ada Permen Kopi Dalam Pertemuan Luhut Binsar Pandjaitan dan Elon Musk



La Nina adalah fenomena alam yang menyebabkan udara terasa lebih dingin atau mengalami curah hujan yang lebih tinggi. Dwikorita menjelaskan, fenomena La Nina terjadi ketika suhu muka laut (SML) di Samudra Pasifik bagian tengah mengalami pendinginan hingga di bawah suhu normal.

Pasokan aliran massa udara dari Samudra Pasifik menuju ke wilayah Kepulauan Indonesia  mengakibatkan terjadinya peningkatan curah hujan karena akan meningkatkan pembentukan awan-awan hujan dengan tambahan massa udara basah. Di mana akhirnya penambahan pembentukan awan-awan hujan dan massa udara basah tersebut akan meningkatkan pula curah hujan.

"Berdasarkan hasil monitoring, La Nina lemah, meskipun masih lemah, namun harus waspada bila nanti menjadi moderat, maka dampaknya akan lebih dari saat ini," kata dia.

La Nina umumnya berdampak pada curah hujan yang tinggi dan terjadinya ancaman bencana hidrometeorologi. Beberapa bentuk bencana hidrometeorologi adalah banjir, tanah longsor, pergerakan tanah dan lainnya.

Dwikorita memprediksi dari data tahun 2020, dampak fenomena La Nina tahun 2021 di Indonesia kurang lebihnya sama seperti pada tahun 2020. Di mana curah hujan akan meningkat berkisar 20 hingga 70 persen.

Peningkatan curah hujan akan berlangsung pada bulan November dan mulai melemah pada bulan Februari. Wilayah yang berdampak cukup besar terjadi di Sumatera bagian Selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan bagian Selatan, dan Sulawesi bagian Selatan.

"Sekali lagi maka kami meminta untuk seluruh pihak, perlu meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan terhadap potensi lanjut dari curah hujan tinggi yang dapat memicu bencana hidrometeorologi," ujarnya