Penyalin Cahaya Sabet 12 Piala Citra FFI 2021

Penyalin Cahaya Sabet 12 Piala Citra FFI 2021
LambeTurah.co.id - Malam penganugerahan Festival Film Indonesia (FFI) 2021 digelar di JCC, Senayan, Jakarta Pusat, pada Rabu, 10 November 2021. Pada FFI 2021, Penyalin Cahaya menjadi film peraih Piala Citra terbanyak.

Sutradara Penyalin Cahaya, Wregas Banutedja, menuturkan bahwa pencapaian Penyalin Cahaya di FFI 2021 tentu membuat dia dan kru film lainnya sangat bangga. Namun, lebih jauh, Wregas menekankan agar pesan film Penyalin Cahaya bisa menggaung dan sampai kepada khalayak yang lebih luas.

"Kami bersyukur atas raihan ini, tetapi lebih jauh, semoga isu kekerasan seksual, pelecehan seksual yang dibawakan Penyalin Cahaya bisa menjadi fokus kita bersama. Agar kasus tersebut dapat diperangi dan mendapat perhatian khusus," kata Wregas dalam acara tersebut.

Sebanyak 346 Rumah Rusak dan 770 Warga Mengungsi Dampak Gempa M 7,4 NTT



Film Penyalin Cahaya berhasil memborong dua belas Piala Citra. Kemenangan tersebut meliputi Film Cerita Panjang, Sutradara, Pemeran Utama Pria, Pemeran Pendukung Pria, Penata Musik, Penata Suara, Penata Busana, Pengarah Sinematografi, Pengarah Artistik, Penulis Skenario Asli, Penyunting Gambar, dan Pencipta Lagu.

Film bergenre drama misteri kriminal Indonesia ini merupakan film panjang pertama yang disutradarai oleh Wregas. Sementara dikursi produser ada Adi Ekatama dan Ajish Dibyo. Ajish yang ikut naik ke podium untuk mewakili kru Penyalin Cahaya mengaku tidak menyangka film ini bisa diganjar penghargaan Film Terbaik FFI 2021.

Film dibintangi oleh Shenina Cinnamon sebagai Sur, Chicco Kurniawan, Jerome Kurnia, Dea Panendra, Giulio Parengkuan dan lainnya. Film ini dirilis perdana secara internasional pada 8 Oktober 2021 di Festival Film Internasional busan dan juga tayang di Netflix pada 13 Januari 2022.

Film ini mengikuti karakter Sur, seorang mahasiswi tingkat pertama di sebuah universitas. Suatu malam, untuk pertama kalinya dalam hidup ia pergi ke pesta untuk merayakan pencapaian grup teater universitas, Mata Hari. Di grup itu Sur bekerja sebagai sukarelawan perancang web.

Namun hidupnya benar-benar berubah setelah dia bangun keesokan paginya. Sur kehilangan beasiswa dan diusir keluarganya setelah foto selfie-nya berbeda secara online. Khawatir bahwa dia mungkin menjadi bahan lelucon senior Mata Hari, Sur akhirnya mencari bantuan dari teman masa kecilnya, Amin. Bersama Amin, ia mencoba menemukan kebenaran tentang foto dan pesta malam itu.