Lambeturah.co.id - Indonesia kembali menjadi sorotan dunia internasional setelah dinobatkan sebagai negara dengan masyarakat paling rajin berdoa berdasarkan hasil survei terbaru yang dirilis Pew Research Center, lembaga riset terkemuka asal Amerika Serikat.

Dalam laporan tersebut, sebanyak 95 persen responden di Indonesia mengaku berdoa setiap hari. Angka ini menempatkan Indonesia di posisi teratas sebagai negara dengan tingkat doa harian tertinggi di dunia, mengungguli sejumlah negara yang dikenal memiliki tingkat religiusitas tinggi.

Di bawah Indonesia, terdapat Kenya dan Nigeria yang masing-masing mencatat angka 84 persen masyarakat berdoa setiap hari. Sementara itu, negara-negara Asia Tenggara lainnya seperti Malaysia dan Filipina berada pada angka 80 persen dan 79 persen.

Temuan tersebut ramai diperbincangkan di media sosial. Sejumlah unggahan bahkan menyertakan narasi tambahan yang menyebut Indonesia sebagai "negara paling rajin berdoa tetapi malas berlogika."

Namun, berdasarkan penelusuran terhadap laporan resmi Pew Research Center, kalimat tersebut tidak pernah tercantum dalam hasil survei. Narasi itu merupakan opini yang ditambahkan oleh sejumlah pihak di media sosial dan bukan bagian dari kesimpulan resmi lembaga riset tersebut.

Pew Research Center dalam surveinya hanya mengukur aspek religiusitas masyarakat, seperti frekuensi berdoa, aktivitas ibadah, serta pentingnya agama dalam kehidupan sehari-hari. Survei tersebut tidak mengukur tingkat kecerdasan, kemampuan berpikir logis, maupun rasionalitas masyarakat.

Tingginya angka religiusitas di Indonesia dinilai mencerminkan kuatnya peran nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sosial masyarakat. Dalam survei Pew sebelumnya, sebanyak 98 persen responden Indonesia menyatakan bahwa agama memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan mereka.

Sebaliknya, sejumlah negara maju di Eropa dan Asia Timur menunjukkan tingkat doa harian yang jauh lebih rendah. Negara seperti Swedia dan Inggris tercatat memiliki persentase masyarakat yang berdoa setiap hari di bawah 10 persen.

Para pengamat sosial menilai perbedaan tersebut menunjukkan adanya kontras budaya antara negara-negara berkembang yang masih menjadikan agama sebagai bagian sentral kehidupan sosial dengan negara-negara yang cenderung lebih sekuler.

Hasil survei ini sekaligus mempertegas posisi Indonesia sebagai salah satu negara dengan identitas spiritual dan kehidupan beragama yang paling kuat di dunia.