Lambeturah.co.id - Kabar mengejutkan datang dari dunia sinema tanah air. Drama Korea legendaris yang pernah menyihir jutaan pasang mata, Descendants of the Sun (DOTS), secara resmi dikonfirmasi akan diremake menjadi film versi Indonesia. Namun, bukannya haru biru penuh antisipasi, pengumuman ini justru memicu "kreativitas tanpa batas" dari para warganet.

Begitu kabar remake ini mencuat ke publik, kolom komentar langsung diserbu netizen yang "turun gunung" dengan opini liar, kocak, namun entah kenapa terasa sangat akurat dengan realita lokal.

Jika di versi aslinya Kapten Yoo Si-jin beraksi di medan perang Urk yang dramatis, netizen Indonesia punya prediksi lain untuk versi lokalnya.

"Kalau setting-nya di Indonesia, paling adegannya bukan di medan perang, tapi di lokasi proyek mangkrak sambil nunggu tender cair," tulis salah satu akun yang langsung menuai ribuan tawa.

Tak berhenti di situ, bayangan romansa antara tentara dan dokter pun tak luput dari sindiran realita sosial. "Ini nanti dokter sama tentaranya bukannya saling menyelamatkan, malah debat BPJS sama surat rujukan," celetuk warganet lain yang disambut sahutan, "Siap-siap aja, adegan romantisnya kepotong iklan obat masuk angin."

Sisi teknis yang di drakor aslinya tampak sangat canggih dan cepat pun jadi sasaran empuk. Ada yang berkomentar bahwa helikopter yang menjemput pemeran utama tidak akan datang secepat kilat.

"Kalau versi Indo, helikopternya nggak turun dramatis... tapi nunggu izin dulu 3 hari 3 malam," tulis netizen yang tampaknya paham betul soal birokrasi.

Bahkan, urusan asmara pun diprediksi akan terbentur kendala teknis khas daerah pelosok: "Yang satu jaga negara, yang satu jaga perasaan... tapi ujung-ujungnya sama-sama ghosting karena sinyal susah."

Banyak pula yang berharap ada sentuhan kearifan lokal agar filmnya terasa lebih membumi. Skenario makan gorengan di tengah situasi genting dianggap sebagai bumbu wajib. "Fix nanti ada adegan makan gorengan di tengah krisis, biar terasa lokal," usul seorang netizen.

Namun di balik semua candaan tersebut, ada satu pesan tulus dari para penggemar lama: "Nggak masalah remake, yang penting jangan remake patah hatinya juga."

Komentar-komentar "asbun" alias asal bunyi ini justru menjadi hiburan tersendiri bagi publik. Campuran antara sindiran, realita pahit, dan kreativitas spontan netizen Indonesia membuktikan bahwa meskipun kita siap menyambut remake tersebut, selera humor lokal tetap nomor satu.

Jadi, siapkah kalian melihat Kapten Yoo Si-jin versi kearifan lokal? Kita tunggu saja tanggal mainnya!