Lambeturah.co.id — Aktor Jefri Nichol kembali menjadi pusat perhatian publik setelah cuplikan video live streaming dirinya saat bermain game bersama teman-temannya viral di media sosial. Dalam siaran tersebut, Jefri melontarkan kritik keras terhadap pemerintah Indonesia dengan nada emosional.

Salah satu pernyataannya yang paling menyedot perhatian adalah ketika ia menyamakan pemerintah Indonesia dengan Israel. Potongan video tersebut langsung tersebar luas di berbagai platform digital dan memicu perdebatan sengit di kalangan warganet.

Aksi blak-blakan aktor film Dear Nathan ini menuai reaksi beragam dari netizen. Sebagian besar pengguna media sosial memuji keberanian Jefri dalam menyuarakan keresahannya secara terbuka.

"Ku sebut kau tampan dan pemberani bang," tulis salah satu netizen di kolom komentar, mencerminkan dukungan yang mengalir untuk sang aktor.

Namun, di balik pujian tersebut, salah satu poin kritik Jefri yang mengaitkan gangguan akses media sosial dengan situasi demonstrasi di dalam negeri justru menuai bantahan keras dari berbagai pihak.

Berdasarkan penelusuran fakta, tudingan bahwa pemerintah Indonesia sengaja membatasi akses media sosial saat demonstrasi berlangsung adalah kekeliruan.

Pada Jumat (12/6/2026) malam, platform raksasa milik Meta, yaitu Facebook dan Instagram, memang mengalami gangguan layanan (outage) berskala global, bukan hanya di Indonesia. Berikut adalah fakta-fakta terkait tumbangnya kedua media sosial tersebut:

• Down Detector Tumbang: Saking masifnya gangguan ini, situs pemantau independen Down Detector sempat kewalahan dan mengalami kendala teknis akibat lonjakan trafik dari pengguna global yang ingin mengecek status platform tersebut.

• Konfirmasi Resmi Meta: Juru bicara Meta, Andy Stone, telah memberikan pernyataan resmi yang mengonfirmasi adanya masalah teknis internal pada sistem mereka. Ia menegaskan bahwa tim teknis Meta sedang bekerja keras melakukan perbaikan.

Dengan demikian, gangguan akses Facebook dan Instagram yang terjadi malam itu murni disebabkan oleh kendala teknis global dari pihak Meta, bukan karena adanya sabotase atau pembatasan internet oleh pemerintah Indonesia.