Lambeturah.co.id - Situasi keamanan di Selat Hormuz semakin mencekam. Sebuah kapal kontainer berbendera Singapura, GFS Pride, dilaporkan tenggelam setelah dihantam proyektil misterius saat melintasi jalur pelayaran strategis tersebut pada Selasa (13/10).

Otoritas Maritim dan Pelabuhan Singapura mengonfirmasi bahwa ledakan proyektil tersebut menyebabkan kerusakan parah serta kebakaran hebat di atas kapal hingga akhirnya tenggelam. Kendati demikian, seluruh 21 awak kapal berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat tanpa laporan cedera.

Tak berhenti di situ, insiden serupa kembali menimpa kapal berbendera Singapura lainnya, GFS Giselle, pada Rabu (14/10). Kapal tersebut juga dihantam proyektil yang merusak bagian lambungnya. Beruntung, GFS Giselle beserta 22 awaknya berhasil mencapai tempat berlabuh yang aman.

Klaim Ranjau Laut dan Rute "Tak Resmi"

Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) memberikan klaim berbeda terkait tenggelamnya kapal kargo tersebut. Pihak IRGC menyatakan bahwa kapal kargo yang mengangkut lebih dari 2.500 kontainer itu tenggelam akibat menabrak ranjau laut setelah memasuki jalur "tidak resmi" di perairan selatan Selat Hormuz.

Menurut Angkatan Laut IRGC, ledakan ranjau memicu kebakaran besar yang tak terkendali sejak Rabu pagi hingga membenamkan seluruh badan kapal. IRGC juga merilis serangkaian foto yang memperlihatkan kepulan asap hitam membubung dari kapal yang buritannya mulai tenggelam, serta puluhan kontainer yang terapung bebas di lautan.

Pemerintah Iran dan ahli hidrografi Pakistan mengimbau kapal-kapal lokal serta nelayan di sekitar perairan Musandam, Oman, untuk meningkatkan kewaspadaan guna menghindari bahaya tabrakan dengan muatan kontainer yang mengapung di jalur pelayaran.

Jalur Strategis Dunia Lumpuh Akibat Konflik

Sementara itu, badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) mencatat adanya insiden serangan terhadap dua kapal kargo di Selat Hormuz pada rentang waktu Selasa sore.

Eskalasi konflik di Selat Hormuz ini merupakan dampak dari perang yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran sejak Februari lalu. Organisasi Maritim Internasional (IMO) PBB mencatat sedikitnya 24 pelaut tewas dalam 106 insiden maritim yang telah terkonfirmasi selama konflik berlangsung.

Padahal, Selat Hormuz merupakan 'urat nadi' energi dunia yang mengalirkan seperlima pasokan minyak dan gas global. Meski sempat ada kesepakatan awal penghentian konflik pada Juni lalu, kesepakatan tersebut runtuh setelah aksi saling serang dan blokade laut kembali memuncak di kawasan tersebut.