Lambeturah.co.id – Keterbatasan fisik tidak menghalangi Zhafira Lutfiadinda atau yang akrab disapa Dinda untuk meraih cita-citanya. Siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) Santi Rama tersebut berhasil diterima di Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026.
Dinda merupakan penyandang disabilitas tunarungu sejak lahir. Ia berhasil lolos ke Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB berkat sederet prestasi yang diraihnya, baik di bidang akademik maupun non-akademik.
Sejak duduk di bangku sekolah dasar, Dinda telah aktif mengikuti berbagai perlombaan seni lukis dan berhasil meraih sejumlah prestasi di tingkat nasional. Bakat tersebut kemudian terus dikembangkan dengan mengikuti kompetisi desain grafis dan komik.
Dinda mengaku memiliki cita-cita untuk bekerja di bidang animasi. Ia ingin bergabung dalam sebuah tim dan ikut berkontribusi dalam pembuatan film animasi Indonesia.
"Saya banyak mengikuti lomba di bidang seni. Saya juga mengikuti les di GridScovila. Karena saya ingin bekerja di bidang animasi, ingin bekerja tim membuat film animasi Indonesia," ujar Dinda, dikutip dari akun YouTube Ditjen PKPLK Kemendikdasmen, Kamis (16/7/2026).
Menurut Dinda, pendidikan tinggi menjadi salah satu langkah penting untuk mewujudkan impiannya. Ia menyadari bahwa sejumlah pekerjaan mensyaratkan pendidikan minimal sarjana atau S1.
"Karena kalau bekerja itu minimal persyaratan harus S1. Setelah itu saya ingin melanjutkan S2 lagi," tuturnya.
Perjuangan Dinda akhirnya membuahkan hasil. Ia berhasil diterima di FSRD ITB melalui jalur SNBP 2026. Program studi tersebut diketahui memiliki tingkat keketatan penerimaan sekitar 6-7 persen.
Keberhasilan tersebut juga menjadi kebanggaan tersendiri bagi Dinda karena ia mengikuti jejak keluarganya yang pernah menempuh pendidikan di ITB.
"Akhirnya saya masuk ITB seperti Abi dan Abang saya," ungkap Dinda.
Sang ibu mengaku sempat terkejut ketika mengetahui keinginan Dinda untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Sebagai orangtua, ia sempat merasa ragu apakah Dinda mampu menjalani perkuliahan dengan kondisi yang dimilikinya.
Meski demikian, sang ibu memilih untuk memberikan dukungan penuh kepada Dinda. Ia bahkan mendorong putrinya untuk terus berprestasi dan aktif dalam berbagai kegiatan.
"Apakah anak SLB bisa? Kalau Kakak mau kuliah kita berjuang. Kakak harus punya prestasi nasional, Kakak harus aktif organisasi," ujar ibunda Dinda.
Kini, Dinda telah membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih pendidikan tinggi dan mengejar cita-cita. Keberhasilannya masuk ITB menjadi bukti bahwa kerja keras, prestasi, dan dukungan keluarga dapat membuka jalan menuju impian.
Dinda pun berpesan kepada para penyandang disabilitas agar tidak merasa rendah diri atau berkecil hati. Ia mengajak mereka untuk tetap bersemangat dalam mengejar cita-cita dan terus berusaha meraih prestasi.





