Lambeturah.co.id - Dugaan perundungan yang melibatkan seorang siswi SMP Negeri 12 Pematangsiantar, Sumatera Utara, berinisial N, menjadi perhatian setelah video kejadian tersebut beredar di media sosial.

Peristiwa itu disebut terjadi pada Jumat (25/9/2026). Keluarga korban kemudian menyampaikan keberatan terkait penanganan pihak sekolah setelah N mengalami luka lebam di bagian wajah.

Kakak korban, Afda, mengatakan persoalan tersebut awalnya dipicu saling ejek terkait nama orang tua. Menurutnya, persoalan sempat diselesaikan setelah salah satu pihak meminta maaf.

Namun, perselisihan kembali terjadi saat kegiatan olahraga di sekolah.

“Adik saya dipanggil ke lantai atas waktu olahraga. Dia sebenarnya tidak mau ribut, tapi malah diprovokasi, disikut, didorong-dorong,” ujar Afda dalam keterangannya yang beredar di media sosial, Sabtu (26/9/2026).

Afda menyebut, dalam kejadian tersebut terdapat sejumlah siswa lain yang berada di sekitar korban. Ia mengatakan adiknya sempat ditahan dan didorong sehingga kesulitan menghindar.

“Yang mukul satu, tapi gengnya bantu dorong dan menahan. Ketua kelas bahkan sempat menutupi kejadian itu biar tidak kelihatan,” katanya.

Kejadian tersebut akhirnya diketahui guru setelah seorang siswa melaporkannya. Korban kemudian mendapat pertolongan pertama di sekolah.

Namun, keluarga menyayangkan karena mereka mengaku tidak langsung mendapat informasi dari pihak sekolah mengenai kondisi korban.

“Guru memang sempat memberikan kompres, tapi tidak ada yang mengabari kami. Adik saya pulang menangis, luka dan syok,” ujar Afda.

Kepala Sekolah Beri Penjelasan

Kepala UPTD SMP Negeri 12 Pematangsiantar, Imelda Samosir, memberikan penjelasan berbeda mengenai kejadian tersebut.

Menurut Imelda, peristiwa itu bukan pengeroyokan massal, melainkan perselisihan antara dua siswa yang merupakan teman sekelas.

“Memang korban mengalami memar di bagian mata, tetapi tidak seperti yang ramai dibicarakan di media sosial,” ujar Imelda dalam keterangan yang beredar, Sabtu (26/9).

Imelda mengatakan pihak sekolah telah memberikan pertolongan pertama kepada korban dan memfasilitasi proses mediasi antara kedua pihak.

Ia juga meminta agar video kejadian tidak kembali disebarluaskan. Menurutnya, langkah tersebut dilakukan untuk menjaga privasi dan hak anak-anak yang terlibat.

“Kami sepakat video itu tidak usah disebarluaskan lagi, tujuannya melindungi hak anak-anak. Bukan berarti kami menutupi, tetapi tidak semua urusan internal sekolah harus jadi konsumsi publik,” jelasnya.

Dalam proses mediasi, keluarga siswa yang terlibat dalam perselisihan disebut telah menyampaikan permintaan maaf kepada keluarga korban. Mereka juga bersedia menanggung biaya pengobatan korban hingga dinyatakan sembuh.

Kedua pihak kemudian sepakat untuk saling memaafkan dan menyelesaikan persoalan tersebut secara kekeluargaan tanpa membawanya ke ranah hukum.

Dinas Pendidikan Bantah Ada Pengeroyokan

Kepala Dinas Pendidikan Kota Pematangsiantar, Syaiful Rizal, juga memberikan penjelasan mengenai kasus tersebut.

Syaiful mengatakan informasi yang diterima pihaknya menunjukkan bahwa kejadian bermula dari saling ejek mengenai nama orang tua dan kemudian berkembang menjadi perkelahian.

“Info yang kami terima, bukan dikeroyok (pembullyan) ya, Bang. Latar belakang kejadian karena mereka saling ejek nama orangtua dan sampai saat ini pihak sekolah sudah memediasi dengan mengunjungi ke rumah siswi,” kata Syaiful.

Ia menyebut korban dan siswa yang terlibat masih berada dalam satu kelas. Syaiful juga mengatakan salah satu siswa yang terlibat diketahui merupakan atlet kickboxing remaja.

“Korban dan anak satunya masih teman satu kelas. Dan kebetulan yang satu lagi juga atlet kickboxing remaja anak kita ini,” ujarnya.

Syaiful telah mendatangi sekolah untuk mengetahui secara langsung persoalan tersebut. Ia berharap kejadian itu menjadi pembelajaran bagi seluruh pihak agar tidak kembali terjadi.

Saat ini, proses perdamaian antara kedua siswa telah dilakukan. Pihak sekolah dan keluarga menyepakati bahwa persoalan tersebut merupakan kenakalan remaja yang perlu mendapatkan pembinaan.

Meski demikian, video kejadian yang beredar di media sosial sebelumnya telah memicu perhatian publik. Perbedaan keterangan antara narasi keluarga korban dengan penjelasan pihak sekolah dan Dinas Pendidikan membuat penanganan kasus tersebut menjadi sorotan.