Lambeturah.co.id - Insiden keras terjadi dalam pertandingan Piala Soeratin U-13 DIY antara Baturetno FC dan Mataram United. Sebuah aksi tendangan yang dinilai bak “tendangan kungfu” terhadap pemain Baturetno viral di media sosial.

Pertandingan tersebut berlangsung di Stadion Dwi Windu, Bantul, pada Kamis (20/8/2026) sore. Insiden terjadi pada menit ke-66 dan melibatkan pemain Mataram United, Firmansyah Purbo Wicaksono, dengan kapten Baturetno FC, Azkhan Jarrar Fauzy.

Dalam video yang beredar, Firmansyah terlihat melancarkan tendangan ke arah Azkhan hingga pemain Baturetno tersebut tersungkur di lapangan. Peristiwa itu kemudian menjadi sorotan publik karena terjadi dalam kompetisi sepak bola kelompok usia U-13.

Sekretaris Asprov PSSI DIY, Wendy Umar Seno Aji, mengatakan pihaknya langsung mengumpulkan berbagai bukti untuk mengetahui secara utuh kronologi kejadian. Bukti tersebut meliputi foto, video, laporan pengawas pertandingan, serta informasi dari pihak Baturetno FC.

“Mulai kemarin sore, kami dari PSSI DIY berusaha mencari dokumen lampiran berkaitan dengan kejadian tersebut, baik dokumentasi foto, video, laporan pengawas pertandingan, dan informasi lainnya,” kata Wendy, Jumat (21/8/2026).

PSSI DIY juga terus memantau kondisi Azkhan. Meski sempat tersungkur akibat insiden tersebut, pemain Baturetno itu masih mampu melanjutkan pertandingan hingga selesai.

Azkhan kemudian menjalani pemeriksaan CT scan karena mengalami sejumlah gejala setelah kejadian. Wendy menyebut hasil pemeriksaan tersebut dinyatakan baik, tetapi Azkhan masih harus menjalani observasi.

“Dia melakukan CT scan berkaitan dengan gejala yang dialami. Hasil CT scan hari ini sudah keluar, hasilnya baik. Namun, Ananda Azkhan masih harus menjalani observasi satu hari ke depan,” jelasnya.

PSSI DIY Tunggu Keputusan Komdis

Terkait tindakan pemain Mataram United, PSSI DIY masih menunggu keputusan Komite Disiplin (Komdis). Sidang terkait insiden tersebut digelar pada Jumat (21/8/2026).

Wendy menegaskan keputusan yang nantinya dikeluarkan Komdis akan dihormati dan dijalankan oleh PSSI DIY. Ia berharap sanksi yang diberikan dapat menjadi pembelajaran bagi klub, terutama karena kejadian berlangsung dalam kompetisi usia dini.

“Hal ini terjadi di kelompok usia 13 tahun sehingga apa pun hasil keputusannya dari Komite Disiplin, kami akan menghormati dan menjalankan. Mudah-mudahan keputusan ini untuk kebaikan sepak bola khususnya di DIY dan menjadi pembelajaran bagi klub-klub peserta,” ujarnya.

Tak hanya menyoroti pemain, PSSI DIY juga mengevaluasi kinerja perangkat pertandingan, khususnya keputusan wasit dalam insiden tersebut.

PSSI DIY telah berkoordinasi dengan Komite Wasit dan menyerahkan sejumlah bukti untuk dipelajari. Jika ditemukan adanya kekeliruan dalam penerapan aturan pertandingan, PSSI DIY membuka kemungkinan memberikan pembinaan hingga sanksi kepada wasit yang bersangkutan.

“Apabila nantinya tidak benar, kami akan coba kembalikan kepada Komite Wasit untuk bisa memberikan pembinaan, refresh kembali berkaitan dengan LOTG (Laws of the Game), dan untuk wasit ini juga diberikan punishment untuk tidak memimpin lagi di beberapa waktu ke depan,” tutur Wendy.

Klub Juga Bisa Diberi Pembinaan

PSSI DIY juga membuka kemungkinan memberikan pembinaan atau hukuman kepada klub. Menurut Wendy, tanggung jawab dalam membentuk karakter pemain muda tidak hanya berada pada individu pemain, tetapi juga klub tempat mereka berlatih dan bertanding.

Ia berharap klub dapat kembali menanamkan nilai sportivitas dan fairness kepada para pemain.

“Harapan kami agar tidak hanya pemainnya yang merasakan efeknya ini, tetapi timnya juga nantinya harus memberikan semacam pendidikan karakter atau nilai-nilai fairness,” pungkasnya.

PSSI DIY meminta pembinaan tersebut dilakukan secara internal di klub dan hasilnya dilaporkan kepada PSSI DIY. Langkah tersebut diharapkan dapat mencegah insiden serupa kembali terjadi dalam kompetisi sepak bola usia muda.