Lambeturah.co.id – Indonesia tengah menyiapkan langkah strategis untuk memperkuat kemandirian pertahanan nasional melalui pengembangan kemampuan Maintenance, Repair and Overhaul (MRO) pesawat C-130 Hercules.
Inisiatif ini dinilai tidak hanya berkaitan dengan pemeliharaan alutsista, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem industri pertahanan yang lebih mandiri dan berdaya saing di kawasan.
Pembahasan tersebut mengemuka dalam program podcast Defence’s Advocate Kementerian Pertahanan RI yang dipandu Kepala Biro Informasi Pertahanan Setjen Kemhan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, dengan menghadirkan Ulta Levenia sebagai narasumber.
Dalam diskusi tersebut, Ulta Levenia menjelaskan bahwa pengembangan fasilitas MRO memiliki nilai strategis yang jauh melampaui fungsi teknis perawatan pesawat.
Menurutnya, kemampuan suatu negara untuk merawat dan mempertahankan kesiapan alutsistanya secara mandiri merupakan salah satu indikator penting kedaulatan pertahanan.
“Negara yang mampu melakukan pemeliharaan dan perbaikan alutsistanya sendiri akan memiliki tingkat kesiapan yang lebih baik sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pihak luar,” ujar Ulta dalam podcast tersebut.
Saat ini pemerintah tengah menyiapkan pengembangan fasilitas MRO Hercules di kawasan Bandara Kertajati, Jawa Barat.
Proyek tersebut masih berada dalam tahap perencanaan dan pengkajian, termasuk penyusunan skema kerja sama industri, pengembangan sumber daya manusia, serta pembangunan infrastruktur pendukung.
Pemerintah menargetkan fasilitas tersebut dapat berkembang menjadi salah satu pusat MRO Hercules yang melayani kebutuhan kawasan Asia.
Selain mendukung kesiapan operasional TNI, pengembangan MRO juga diyakini akan memberikan dampak ekonomi yang signifikan.
Keberadaan fasilitas tersebut berpotensi mendorong transfer teknologi, menciptakan lapangan kerja berkeahlian tinggi, serta memperkuat kemampuan industri pertahanan nasional dalam rantai pasok global.
Ulta menilai bahwa visi besar yang perlu dipahami publik bukan semata pembangunan hanggar atau fasilitas perawatan pesawat, melainkan transformasi Indonesia dari negara pengguna alutsista menjadi negara yang memiliki kemampuan dukungan logistik dan pemeliharaan secara mandiri.
“Ketika Indonesia mampu mengelola siklus hidup alutsistanya sendiri, maka yang dibangun bukan hanya fasilitas, tetapi fondasi kemandirian pertahanan jangka panjang,” jelasnya.
Pengembangan kemampuan MRO tersebut juga sejalan dengan upaya pemerintah memperkuat industri strategis nasional dan meningkatkan posisi Indonesia dalam ekosistem pertahanan regional.
Jika terealisasi sesuai rencana, Indonesia berpeluang menjadi salah satu pusat layanan pemeliharaan pesawat Hercules yang penting di kawasan Asia.





