Lambeturah.co.id – Kabar mengenai temuan emas di aliran Sungai Comal, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, membuat warga beramai-ramai mendatangi kawasan sungai untuk mencari peruntungan.
Fenomena tersebut terjadi setelah muncul informasi mengenai penemuan serpihan atau benda yang disebut-sebut sebagai emas di sekitar aliran Sungai Comal, khususnya wilayah Desa Kelangdepok, Kecamatan Bodeh.
Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah warga bahkan datang dari luar Kabupaten Pemalang. Mereka membawa peralatan sederhana seperti nampan dan cangkul untuk mengayak pasir sungai dan mencari material yang dianggap bernilai.
Ramainya aktivitas pencarian tersebut disebut bermula dari temuan sejumlah serpihan perhiasan oleh penambang pasir di kawasan Sungai Comal.
Beberapa benda yang ditemukan disebut berupa bagian kalung, anting hingga cincin. Sejumlah temuan kemudian dikabarkan dijual di kawasan Pasar Comal dengan nilai mencapai jutaan rupiah.
Informasi tersebut kemudian menyebar dan menarik perhatian warga dari berbagai daerah yang ingin mencoba mencari serpihan emas di aliran sungai.
Salah seorang pencari emas, Simin, warga Purwonegoro, Banjarnegara, bahkan datang bersama sekitar 15 rekannya yang memiliki pengalaman mencari emas di sejumlah daerah.
Mereka rela berjam-jam berada di aliran sungai dengan mengayak pasir untuk mencari kemungkinan adanya material berharga.
Namun, menurut keterangan pencari tersebut, benda yang ditemukan di Sungai Comal sejauh ini lebih banyak berupa bagian dari perhiasan, bukan bongkahan emas murni.
Di tengah ramainya kabar mengenai emas tersebut, muncul pertanyaan mengenai apakah Sungai Comal memang memiliki kandungan emas secara alamiah.
Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Tengah kemudian melakukan pengecekan terhadap lokasi yang sempat ramai didatangi warga.
Dari hasil peninjauan, ESDM menyebut kawasan tersebut berada pada formasi alluvium, yakni endapan sungai yang tersusun antara lain dari pasir, kerikil, kerakal dan lumpur.
Berdasarkan kondisi geologi tersebut, potensi munculnya endapan emas alamiah di lokasi itu dinilai sangat kecil karena tidak ditemukan sumber mineral emas yang mendukung terbentuknya endapan emas alami.
Penjelasan ESDM juga menjawab teka-teki mengenai benda berwarna kuning yang ditemukan warga.
Jika memang terdapat emas atau perhiasan di sekitar aliran Sungai Comal, benda tersebut diduga bukan merupakan hasil proses geologi yang membentuk endapan emas.
Benda tersebut dapat saja merupakan perhiasan milik manusia yang sebelumnya hilang, terbawa arus atau banjir, kemudian tertimbun material sungai.
Dengan demikian, adanya benda yang disebut sebagai emas di sungai tidak serta-merta membuktikan bahwa kawasan tersebut merupakan lokasi endapan emas alamiah.
Sebelumnya, aktivitas pencarian emas di Sungai Comal sempat berlangsung cukup ramai.
Pantauan di wilayah Desa Kelangdepok menunjukkan warga menggunakan peralatan sederhana untuk mengayak pasir sungai.
Sebagian pencari bahkan datang dari luar daerah, termasuk Banjarnegara. Mereka mencoba mencari material berharga berdasarkan informasi yang beredar mengenai adanya serpihan emas di lokasi tersebut.
Namun, informasi mengenai adanya emas alamiah di Sungai Comal belum terbukti secara ilmiah.
Kepala Desa Kelangdepok juga sebelumnya menyampaikan bahwa hasil pengecekan bersama aparat di wilayah tersebut tidak menemukan kandungan emas seperti yang ramai diperbincangkan di media sosial.
Munculnya fenomena berburu emas ini menjadi pengingat agar masyarakat tidak langsung mempercayai informasi yang beredar sebelum mendapatkan kepastian dari hasil pemeriksaan atau kajian teknis.
Terlebih, aktivitas penggalian dan pendulangan secara massal di bantaran sungai dapat menimbulkan persoalan keselamatan maupun lingkungan.
Aparat juga telah meminta masyarakat menghentikan aktivitas pencarian yang dilakukan berdasarkan informasi yang belum terbukti tersebut.
Untuk sementara, kabar mengenai "emas Sungai Comal" masih harus dibedakan antara temuan benda atau serpihan perhiasan dengan endapan emas yang terbentuk secara alamiah.
Keterangan ESDM menjadi penjelasan penting dalam persoalan tersebut. Alih-alih menemukan bukti adanya sumber emas alami, pemeriksaan geologi justru menunjukkan bahwa kawasan tersebut merupakan wilayah endapan aluvial dan tidak menunjukkan potensi endapan emas alamiah.
Dengan demikian, warga yang sempat berbondong-bondong datang untuk berburu emas kini dihadapkan pada fakta bahwa benda-benda yang ditemukan di Sungai Comal belum dapat dijadikan bukti adanya sumber emas alami di kawasan tersebut.





