Lambeturah.co.id — Tiga penumpang bajaj disebut mengalami kejadian yang diduga sebagai "getok harga" saat menempuh perjalanan dari Mal Grand Indonesia (GI), Jakarta Pusat, menuju Halte Stasiun LRT Dukuh Atas, Tanah Abang.

Ketiganya dikenai tarif Rp120.000 untuk perjalanan sejauh sekitar 2,5 kilometer. Namun, sejumlah sopir bajaj di Jakarta Pusat menyebut tarif tersebut jauh di atas harga yang umumnya berlaku.

Agus (40), pengemudi bajaj yang telah bekerja sejak 2017, mengatakan tarif perjalanan dari kawasan Mal GI menuju Stasiun LRT Dukuh Atas biasanya berada di kisaran Rp30.000 hingga Rp40.000.

"Ya paling Rp30.000 paling, karena kan lewat Karet ya, muter," kata Agus saat ditemui di sekitar Mal GI, Senin (28/9/2026).

Menurut Agus, rute tersebut memang harus memutar karena menuju Jalan Galunggung melalui kawasan Karet. Meski demikian, tarif Rp120.000 dinilai tidak wajar untuk perjalanan tersebut.

Ia juga menegaskan tarif bajaj pada umumnya dihitung berdasarkan satu kali perjalanan, bukan berdasarkan jumlah penumpang.

"Enggak lah, mana ada bajaj dihitung orang, itu mah sopirnya aja yang ngakalin. Dari dulu ya sekali jalan," ujarnya.

Agus menduga oknum sopir tersebut memanfaatkan ketidaktahuan penumpang yang jarang menggunakan bajaj. Menurutnya, praktik semacam itu bisa merugikan penumpang sekaligus mencoreng citra pengemudi bajaj lainnya.

"Emang bajaj mah tergantung sopirnya sih, ada aja yang nakal kayak gitu. Biasanya sengaja tuh nyari orang baru apa yang enggak pernah naik, dibohongin itu sama sopirnya," tuturnya.

Hal serupa disampaikan Beni (46), sopir bajaj lainnya. Ia mengatakan tidak ada ketentuan tarif bajaj yang dihitung berdasarkan jumlah orang di dalam kendaraan.

"Enggak mungkin bajaj kalau dihitung per orang, enggak ada sejarahnya begitu. Kalau sekali jalan ya jalan aja," kata Beni.

Beni mencontohkan, ketika dua orang menaiki satu bajaj dalam satu perjalanan, tarif tetap dihitung untuk perjalanan tersebut, bukan dikalikan berdasarkan jumlah penumpang.

Meski begitu, ia mengakui kondisi lalu lintas dapat memengaruhi kesepakatan tarif. Jalur Karet, terutama saat jam sibuk, kerap mengalami kemacetan sehingga sopir bisa mempertimbangkan kondisi tersebut dalam menentukan harga.

Namun, menurut Beni, tarif Rp100.000 lebih untuk perjalanan sekitar 2,5 kilometer tetap terlalu tinggi.

"Tergantung juga jamnya. Jalur Karet itu jujur aja emang macet banget kalau jam sibuk, tapi paling ya Rp40.000 udah cukup lah, apa Rp50.000 paling mentok," jelasnya.

Beni bahkan mengatakan penumpang memiliki pilihan transportasi lain apabila tarif bajaj dianggap terlalu mahal.

"Saya juga kalau jadi penumpangnya ogah kalau Rp100.000, mending saya naik taksi kan adem ada AC-nya," ujarnya.