Lambeturah.co.id – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), Jawa Barat, menimbulkan ancaman serius bagi kelestarian satwa liar. Di tengah upaya pemadaman api, relawan Masyarakat Peduli Api (MPA) Paguyuban Silihwangi Majakuning berhasil menyelamatkan seekor bayi surili yang ditemukan di sekitar pohon hangus terbakar.

Dikutip dari berita yang beredar, Sabtu (24/10/2026), bayi surili tersebut diperkirakan baru berusia tiga hingga empat hari ketika ditemukan di kawasan Bukit Gunung Dolang, Gunung Ciremai. Kondisinya lemah setelah diduga terpapar asap kebakaran dan terpisah dari induknya saat api melalap vegetasi di sekitarnya.

Saat berada di lokasi, ia mendengar suara tangisan satwa dari arah pohon yang telah terbakar. Setelah melakukan pemeriksaan, ia menemukan seekor bayi surili yang masih berada di sekitar dahan pohon tersebut.

Melihat kondisi satwa yang memprihatinkan, Dodo bersama tim segera melakukan penyelamatan dan memberikan pertolongan awal. Setelah berhasil dievakuasi, bayi surili itu kemudian dibawa ke tempat yang lebih aman sambil diupayakan untuk dipertemukan kembali dengan induknya.

Bayi surili kemudian ditempatkan di lokasi aman agar induknya dapat mendekat. Setelah mendengar suara anaknya, induk surili bersama kelompoknya menghampiri dan akhirnya membawa bayi tersebut kembali ke dalam kelompoknya.

Dodo mengungkapkan rasa syukurnya atas keberhasilan penyelamatan tersebut. Menurutnya, momen ketika induk surili kembali mendekati anaknya menjadi kabar menggembirakan di tengah situasi kebakaran yang mengancam kehidupan satwa liar di Gunung Ciremai.

Ketua Paguyuban Silihwangi Majakuning, H. Nandar Junar Arif, menegaskan bahwa upaya penanganan karhutla tidak hanya berfokus pada pemadaman api dan penyelamatan pepohonan, tetapi juga harus memperhatikan kelestarian flora dan fauna yang hidup di kawasan tersebut.

Surili merupakan primata endemik Pulau Jawa yang dilindungi dan memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan. Keberadaannya menjadi salah satu kekayaan keanekaragaman hayati yang perlu dijaga, khususnya di kawasan konservasi Gunung Ciremai.

Kebakaran hutan tidak hanya menyebabkan kerusakan vegetasi, tetapi juga menghilangkan sumber pakan, tempat berlindung, dan ruang hidup satwa. Kondisi tersebut dapat memaksa satwa liar berpindah ke wilayah lain untuk mencari tempat yang lebih aman.

Kepala Balai Taman Nasional Gunung Ciremai, Toni Anwar, turut mengapresiasi upaya relawan yang berhasil menyelamatkan bayi surili dan mengembalikannya kepada induknya di habitat alami.

Meski demikian, keberhasilan penyelamatan tersebut tidak serta-merta menghilangkan ancaman terhadap satwa liar lainnya. Pemantauan terhadap kawasan terdampak kebakaran tetap diperlukan untuk mengetahui dampak kerusakan habitat serta memastikan keselamatan satwa yang masih berada di sekitar lokasi.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa penanganan karhutla bukan hanya berkaitan dengan pemadaman api, melainkan juga menyangkut keberlangsungan ekosistem dan kehidupan satwa yang bergantung pada kelestarian hutan.

Karena itu, diperlukan kerja sama antara petugas, relawan, masyarakat, dan pihak terkait untuk mencegah meluasnya kebakaran, melindungi satwa liar, serta memulihkan kawasan hutan yang terdampak.

Gunung Ciremai memiliki fungsi ekologis penting bagi lingkungan dan masyarakat di sekitarnya. Menjaga kelestariannya berarti turut melindungi sumber air, keanekaragaman hayati, serta keseimbangan alam yang menjadi penopang kehidupan.

Keberhasilan relawan menyelamatkan bayi surili menjadi secercah harapan di tengah ancaman karhutla. Namun, upaya perlindungan hutan harus terus dilakukan agar satwa endemik Jawa tersebut tetap memiliki habitat yang aman untuk bertahan hidup dan berkembang biak.