Lambeturah.co.id – Sebuah unggahan di media sosial Threads baru-baru ini menarik perhatian netizen setelah seorang warga membagikan pengalamannya saat menghadiri sebuah acara hajatan di wilayah Batang, Jawa Tengah.
Unggahan dari akun @wahadi_jogja tersebut menyoroti tradisi pengumpulan sumbangan pernikahan yang langsung dimasukkan ke dalam wadah terbuka atau baskom tanpa menggunakan amplop. Fenomena ini memicu beragam reaksi karena dianggap mengabaikan privasi nominal uang yang disumbangkan oleh para tamu.
Dalam unggahannya, akun tersebut mengekspresikan rasa canggungnya saat hendak memberikan sumbangan. Ia mengaku sebenarnya sudah siap untuk menyumbang, namun urung merasa nyaman ketika melihat uang sumbangan para tamu langsung digeletakkan begitu saja di dalam baskom terbuka.
"Saya sebenarnya siap nyumbang. Tapi pas lihat uang langsung masuk baskom tanpa amplop… Kok rasanya seperti bayar iuran ronda yang menunggak 3 bulan," tulis akun @wahadi_jogja dalam unggahannya yang disertai tagar #Hajatan, #AmplopNikah, dan #SumbanganTunai.
Bagi sebagian orang, amplop bukan sekadar pembungkus kertas biasa. Amplop berfungsi sebagai pelindung privasi agar nominal yang diberikan tidak diketahui oleh tamu lain yang sedang mengantre di meja penerima tamu. Ketika uang langsung diletakkan secara terbuka, ada beban psikologis tersendiri bagi tamu undangan, terutama jika nominal yang mereka bawa tidak seberapa.
Di beberapa daerah di Jawa Tengah, termasuk Batang, tradisi mencatat langsung nominal sumbangan di depan umum atau memasukkannya ke wadah terbuka memang masih sering dijumpai. Alasan utamanya biasanya adalah efisiensi waktu, transparansi, serta memudahkan tuan rumah (shohibul hajat) untuk menghitung dan mencatat saweran atau kondangan guna keperluan timbal balik di masa depan.
Namun, seiring berjalannya waktu, pergeseran nilai mengenai privasi mulai terjadi. Banyak masyarakat modern menilai bahwa urusan nominal sumbangan adalah hal yang personal.
Netizen pun ikut membanjiri kolom komentar dengan opini yang terbelah. Ada yang memaklumi karena itu sudah menjadi adat setempat agar tidak ada "amplop kosong", namun tidak sedikit pula yang setuju bahwa wadah terbuka membuat tamu merasa dihakimi secara sosial.
Fenomena ini menjadi pengingat bagi penyelenggara acara di era digital untuk mulai mempertimbangkan kenyamanan psikologis para tamu undangan tanpa harus menghilangkan esensi dari gotong royong dalam tradisi hajatan.





