Lambeturah.co.id — Jauh sebelum maraknya penggunan Artificial Intelligence (AI) seperti ChatGPT, Claude, maupun generative AI modern seperti sekarang, seorang mahasiswa di Bandung ternyata sudah melahirkan gagasan visioner tentang teknologi tersebut.
Adalah Rudi Fajar, alumnus Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Padjadjaran (Unpad) angkatan 1992, yang sukses mencuri perhatian warganet setelah mengunggah kembali arsip skripsinya di media sosial Threads via akun `@rudifajar`.
Skripsi yang diselesaikan pada Juli 1992 tersebut berjudul "Artificial Intelligence Sebagai Alat Bantu Akuntan Publik dalam Pemilihan Prosedur Pemeriksaan Piutang". Topik ini dinilai sangat tidak lazim dan jauh melompati zamannya, mengingat pada awal era 1990-an riset akuntansi masih didominasi oleh metode-metode konvensional.
Layar Hitam-Putih dan Berburu Literatur Hingga ke Singapura
Perjuangan Rudi dalam menyusun skripsi tersebut bukanlah hal mudah. Pada tahun 1992, jaringan internet belum masuk ke Kota Bandung. Laptop atau komputer yang digunakan saat itu masih berlayar monochrome (hitam-putih).
Keterbatasan sumber daya dan referensi menjadi tantangan terbesar. Literatur akademis mengenai Artificial Intelligence sangat mustahil ditemukan di perpustakaan Bandung maupun Jakarta. Tak hilang akal, demi menuntaskan rasa ingin tahu dan idealisme akademisnya, Rudi bahkan sampai berburu buku ilmiah hingga ke Singapura. Dari sana, ia berhasil membawa pulang dua hingga tiga buku referensi kunci.
Tak hanya berhenti pada teori, Rudi juga membangun contoh program komputer sederhana sebagai pembuktian gagasannya. Demi merealisasikan ide tersebut, ia berkolaborasi dengan rekan kosnya dari jurusan Teknik Industri Institut Teknologi Bandung (ITB) menggunakan perangkat lunak Clipper Summer '87.
Embrio AI untuk Dunia Akuntansi
Rudi mengakui bahwa sistem yang ia kembangkan pada 1992 tentu belum bisa disamakan dengan kemampuan kecerdasan buatan serba bisa masa kini. Sistem yang ia rancang kala itu pada dasarnya merupakan "embrio" atau cikal bakal dari AI yakni sebuah expert system (sistem pakar) yang diprogram untuk membantu akuntan publik mengambil keputusan pemeriksaan piutang berdasarkan sampel data.
"Dikaitkan dengan AI dengan definisi saat ini tentu akan debatable. Program tersebut lebih tepatnya embrio atau cikal-bakal AI. Semakin banyak data maka akan semakin pintar dan akurat," ujar Rudi.
Kisah rekam jejak riset Rudi Fajar ini mendadak viral dan menuai banyak pujian dari civitas akademika serta alumni Unpad. Banyak netizen yang terpukau melihat bagaimana seorang mahasiswa Indonesia pada 34 tahun lalu sudah mampu membayangkan lompatan teknologi yang baru menjadi tren global puluhan tahun setelahnya.





