Lambeturah.co.id - Gelaran Musabaqah Tilawatil Quran dan Hadis (MTQH) tingkat Kecamatan Ambalawi, Kabupaten Bima, mendadak jadi sorotan hangat warganet di media sosial. Pasalnya, besaran hadiah yang diberikan kepada para pemenang dinilai sangat minim dan tak sebanding dengan perjuangan para qori dan qoriah.

Isu ini mencuat setelah akun Facebook bernama Arif Rahman_ mengunggah foto perbandingan hadiah antara MTQ tingkat Desa dan tingkat Kecamatan pada Jumat (18/9/2026).

Dalam unggahan tersebut, terlihat kontras yang cukup tajam. Untuk tingkat Desa, peserta yang meraih juara berhasil membawa pulang hadiah sebesar Rp700 ribu. Sementara untuk MTQ tingkat Kecamatan—yang notabene merupakan ajang seleksi menuju tingkat Kabupaten—peserta Juara III hanya menerima apresiasi sebesar Rp100 ribu.

Meski pengunggah tidak menuliskan nada protes secara langsung dan hanya menyematkan kalimat singkat, "Masya Allah luar biasa berkahnya," unggahan tersebut langsung memicu reaksi berantai dari warganet.

Warganet Pertanyakan Transparansi Anggaran

Banyak pengguna media sosial yang menyayangkan minimnya perhatian pemerintah setempat terhadap para penghafal dan pembaca Al-Qur'an. Hadiah sebesar Rp100 ribu dianggap sangat miris, mengingat biaya transportasi dan persiapan peserta selama latihan bisa melebihi nominal tersebut.

Berbagai komentar pedas pun membanjiri kolom komentar. Warganet mempertanyakan transparansi pengelolaan anggaran panitia penyelenggara. Bahkan, tidak sedikit yang menyentil bahwa apresiasi terhadap acara keagamaan jauh lebih rendah dibanding kegiatan hiburan lainnya.

"Di sisi lain, ngadain orgen sewa biduan bayarnya jutaan," tulis salah satu warganet di kolom komentar.

Tak berhenti di situ, beberapa pengikut media sosial bahkan membeberkan dugaan mengejutkan. Salah satu akun mengklaim bahwa ada juara di kategori tertentu yang diduga hanya menerima amplop kosong saat pembagian hadiah.

Menunggu Klarifikasi Pihak Panitia

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari panitia penyelenggara MTQ Kecamatan Ambalawi maupun Pemerintah Kecamatan Ambalawi terkait rincian anggaran dan penetapan nominal hadiah tersebut.

Dugaan penyelewengan anggaran yang ramai diperbincangkan warganet di media sosial masih berupa spekulasi publik dan belum terbukti secara hukum. Pihak media masih terus berupaya menghubungi panitia untuk mendapatkan klarifikasi resmi dan membuka ruang hak jawab seluas-luasnya.

Warganet berharap, baik Pemerintah Kecamatan maupun Pemerintah Kabupaten Bima dapat turun tangan dan lebih menghargai perjuangan para Qori, Qoriah, Hafidz, dan Hafidzah yang membawa nama baik daerah.