Lambeturah.co.id — Jagat media sosial kembali diramaikan oleh curhatan seorang warga asli Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), mengenai tradisi kemasyarakatan dan beban sosial di daerah asalnya.
Melalui unggahan di media sosial, akun bernama @ainna_ak mengeluhkan maraknya tradisi memberi sumbangan atau nyumbang dalam hampir setiap momen kehidupan bermasyarakat di wilayah tersebut. Tak hanya momen penting seperti pernikahan atau khitanan, ia mengungkapkan bahwa peristiwa sederhana hingga urusan ternak pun kerap melibatkan tradisi amplop.
"Kak aku asli Gunungkidul, kami di sana serba 'nyumbang, sumbangan' ngasi amplop bahasa umumnya. Sapi lahiran disumbangi, khitanan disumbangi, bongkar rumah disumbangi, orang lahiran disumbangi," tulis akun @ainna_ak dalam tangkapan layar yang beredar.
Ia menambahkan, keterikatan pada tradisi sumbangan ini dinilai cukup memberatkan, terlebih jika berkaitan dengan acara adat desa seperti Rasulan. Menurutnya, setiap Kepala Keluarga (KK) diwajibkan membayar iuran berkisar antara Rp80.000 hingga Rp150.000 tanpa memandang status ekonomi, termasuk lansia maupun janda miskin, demi menggelar acara hiburan.
Beban sosial dan ekonomi dari tradisi tersebut diakui menjadi salah satu alasannya memilih merantau dan tinggal di tempat lain.
Memicu Respons dan Reaksi Warganet
Curhatan tersebut seketika memicu gelombang tanggapan dari pengguna media sosial lainnya yang juga merasakan hal serupa.
Beberapa akun turutmengaitkan tingginya tekanan sosial dari tradisi buang amplop ini dengan beban psikologis warga setempat. Akun @joesugiono menyebutkan bahwa selain tradisi nyumbang, masyarakat juga dihadapkan pada rutinitas arisan RT, karang taruna, hingga arisan ibu-ibu yang berpotensi memicu persaingan status sosial.
"Kerukunan semu yang didasari pamrih dan adu gengsi," komentar akun @joesugiono.
Pengalaman serupa juga dibagikan oleh akun @aaaakiyomasa. Ia menceritakan kisah suaminya yang juga berasal dari Gunungkidul dan memilih tidak menetap di kampung halaman karena enggan terikat beban sosial yang dinilai berlebihan.
"Suamiku juga orang Gunungkidul... Jauh sejak sebelum menikah, suamiku pun udah bilang nanti gak akan pernah bawa aku tinggal di sana. Dikampung gila-gilaan banget sosialnya," ungkapnya.
Fenomena ini menjadi cerminan pergulatan antara menjaga tradisi kearifan lokal (gotong royong) dengan perubahan tuntutan ekonomi serta gaya hidup masyarakat modern saat ini. Bagi sebagian warga, tradisi menyumbang dan gotong royong memang menjadi modal sosial, namun bagi sebagian lainnya terutama generasi muda hal tersebut mulai dirasakan sebagai beban finansial yang memberatkan.





