Lambeturah.co.id - Kisah siswa dan guru SMAN 1 Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, mendapat perhatian publik setelah momen pemberangkatan umrah gratis mereka viral di media sosial.
Yang membuat kisah tersebut menarik, biaya perjalanan ke Tanah Suci itu berasal dari program Infak Umrah yang dijalankan pihak sekolah. Para siswa menyisihkan infak sebesar Rp500 per hari, sedangkan tenaga kependidikan berinfak Rp1.000 setiap hari.
Dalam video yang beredar di media sosial, terlihat momen haru saat seorang siswa bersujud setelah namanya diumumkan sebagai penerima beasiswa umrah.
Kepala SMAN 1 Padalarang, Lina, membenarkan bahwa sekolahnya memiliki program beasiswa umrah yang telah berjalan selama tiga tahun.
"Ya betul, jadi memang ini program di sekolah kami, beasiswa umrah. Tapi kalau nama resminya Infaq Umrah SMAN 1 Padalarang. Tahun ini 1 siswa dan 1 guru yang berangkat," ujar Lina saat dikonfirmasi, Senin (14/9/2026).
Menurut Lina, program tersebut dimulai sejak 2023 atau ketika dirinya ditugaskan menjadi Kepala SMAN 1 Padalarang. Program serupa sebelumnya juga pernah dijalankan Lina saat memimpin SMAN 2 Lembang.
Namun, besaran infak di kedua sekolah tersebut berbeda. Ketika di SMAN 2 Lembang, siswa terbiasa berinfak Rp2.000 per hari. Sementara di SMAN 1 Padalarang, nominalnya disesuaikan menjadi Rp500 per siswa per hari.
"Alhamdulillah sudah berjalan tiga tahun juga," katanya.
Selama program tersebut berlangsung di SMAN 1 Padalarang, sebanyak empat siswa dan tiga guru telah mendapatkan kesempatan untuk menjalankan ibadah umrah melalui program tersebut.
Lina menegaskan, program Infak Umrah bukan merupakan pungutan wajib. Sebelum dilaksanakan, pihak sekolah terlebih dahulu melakukan pembahasan bersama tenaga pendidik, siswa, dan orangtua.
"Setelah hasil rapat dengan orangtua siswa dan guru, kita sepakat melaksanakan program ini. Saya tidak mau juga ada kesan ini pungutan, sehingga ini kami tekankan untuk kedisiplinan, gotong royong, komitmen, dan ini suatu hal yang sangat positif," jelasnya.
Bukan Undian, Penerima Umrah Harus Lewati Seleksi
Penerima beasiswa umrah di SMAN 1 Padalarang tidak ditentukan melalui undian ataupun penunjukan langsung. Siswa harus melewati sejumlah tahapan seleksi.
Salah satu aspek yang dinilai adalah kemampuan membaca dan menghafal Alquran. Selain itu, perilaku siswa juga menjadi bagian dari penilaian.
"Ada seleksi tahfiz Alquran. Anak-anak yang lolos itu adalah mereka yang sudah melalui seleksi mulai dari perilaku oleh guru BK, pasti yang tidak ada catatan pelanggaran, lalu masuk seleksi tahfiz, hafalan, tajwid, sambung ayat," tutur Lina.
Seleksi dilakukan oleh guru mata pelajaran untuk mendapatkan siswa dengan nilai terbaik. Setelah jumlah peserta mengerucut, mereka mengikuti tes munaqosah atau ujian akhir untuk mengukur kemampuan, pemahaman, serta hafalan Alquran.
Pada seleksi kali ini, sebanyak 16 siswa mengikuti tahapan akhir dan tampil di hadapan warga sekolah.
"Tes munaqosah ini langsung di depan warga sekolah. Jadi dari 16 siswa hasil seleksi, semua tampil di depan umum," ungkap Lina.
Untuk menjaga objektivitas, seleksi guru juga melibatkan ustaz dari luar sekolah. Berbeda dengan siswa, guru hanya mengikuti ujian hafalan juz 30.
Siswi Kelas XII Dapat Umrah Gratis
Pada periode 2026, penerima beasiswa umrah dari kalangan siswa adalah Asy Syakira Pratama Putri Jasuma, siswi kelas XII-9.
Asy Syakira dijadwalkan berangkat ke Tanah Suci pada Oktober 2026. Namun, keberangkatan tersebut bisa dimajukan apabila sekolah mendapatkan tambahan kuota pada September.
Menariknya, seluruh kebutuhan perjalanan umrah ditanggung melalui program tersebut. Mulai dari tiket pesawat, akomodasi, pembuatan paspor, hingga uang saku.
"Semua biaya, mulai dari tiket pesawat, akomodasi, pembuatan paspor, sampai uang saku sudah ditanggung sekolah. Sekitar Rp30 jutaan," kata Lina.
Selain Asy Syakira, pada tahun ini satu orang guru SMAN 1 Padalarang juga mendapatkan kesempatan yang sama untuk menjalankan ibadah umrah.
Lina berharap program Infak Umrah tidak hanya memberikan kesempatan kepada siswa dan guru untuk beribadah ke Tanah Suci, tetapi juga membentuk karakter para siswa.
Menurutnya, semangat gotong royong dalam program tersebut dapat mendorong siswa menjadi pribadi yang lebih menghargai orang lain, santun, serta semakin bersemangat dalam belajar, termasuk mendalami Alquran.
"Harapannya output anak-anak itu bisa mendoakan seluruh warga sekolah, itu hal yang tidak ternilai. Mereka kan berangkat hasil gotong royong, jadi ada efek positiflah buat dirinya, temannya, lingkungannya, buat semua," pungkas Lina.





