Lambeturah.co.id - Nama Indonesia kembali mendapat sorotan di panggung ekonomi global. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati kembali dikaitkan dengan agenda penting Bank Dunia yang berkaitan dengan pembiayaan bagi negara-negara berpenghasilan rendah.

Kepercayaan tersebut tidak terlepas dari pengalaman panjang Sri Mulyani di bidang ekonomi, keuangan, dan pembangunan internasional. Sebelum kembali menjadi Menteri Keuangan Indonesia, Sri Mulyani pernah menjabat sebagai Managing Director dan Chief Operating Officer Bank Dunia.

Dalam posisi tersebut, Sri Mulyani bertanggung jawab atas operasional Bank Dunia secara global dan turut menangani arah strategis serta kebijakan lembaga pendanaan bagi negara-negara termiskin melalui International Development Association (IDA).

Peran tersebut menjadi penting di tengah meningkatnya kebutuhan pembiayaan pembangunan di negara-negara berpenghasilan rendah. Bank Dunia dan IMF pada September 2026 juga menyetujui reformasi kerangka keberlanjutan utang untuk negara-negara berpenghasilan rendah, dengan perhatian lebih besar terhadap risiko utang domestik, perubahan iklim, pembangunan infrastruktur, serta pengembangan sumber daya manusia.

Kebutuhan pendanaan pembangunan saat ini juga menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Negara-negara berkembang harus berhadapan dengan ketidakpastian ekonomi global, perubahan iklim, tekanan fiskal, ketahanan pangan, hingga kebutuhan investasi untuk meningkatkan kualitas layanan publik.

Bank Dunia sendiri mencatat mobilisasi modal swasta untuk negara berkembang mencapai rekor pada tahun fiskal 2026. Total modal swasta yang berhasil dimobilisasi mencapai US$112 miliar, sementara pembiayaan dan mobilisasi secara keseluruhan menembus lebih dari US$200 miliar.

Bagi negara-negara berpenghasilan rendah, akses terhadap pembiayaan menjadi persoalan penting karena kapasitas fiskal mereka cenderung lebih terbatas. Karena itu, penguatan lembaga pendanaan internasional dan koordinasi dengan negara donor maupun sektor swasta menjadi bagian penting dalam mendukung pembangunan.

Pengalaman Sri Mulyani di Bank Dunia menjadi salah satu modal dalam memahami kompleksitas persoalan tersebut. Ia sebelumnya juga pernah dipercaya mewakili Bank Dunia dalam berbagai forum internasional, termasuk G20.

Keterlibatan tokoh Indonesia dalam agenda pembangunan global sekaligus menunjukkan besarnya ruang bagi Indonesia untuk berkontribusi dalam pembahasan mengenai pembiayaan pembangunan internasional.

Ke depan, tantangan pembiayaan negara-negara miskin masih akan berkaitan erat dengan keberlanjutan utang, kebutuhan investasi pembangunan, perubahan iklim, serta keterbatasan ruang fiskal.

Dengan kondisi tersebut, penguatan kerja sama antara lembaga keuangan internasional, pemerintah, negara donor, dan sektor swasta menjadi semakin penting agar pembiayaan pembangunan dapat menjangkau negara-negara yang paling membutuhkan.