Lambeturah.co.id – Polemik terkait penampilan salah satu peserta dalam Simbang Kulon Night Carnival di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, akhirnya mendapat tanggapan dari pihak peserta dan panitia.
Mereka menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat setelah kostum dan atraksi yang ditampilkan menuai sorotan karena dianggap menyerupai ritual atau simbol-simbol satanik.
Perwakilan tim peserta mengakui bahwa munculnya kontroversi tersebut disebabkan oleh minimnya pemahaman atau literasi mengenai makna simbol dan konsep yang digunakan dalam penampilan mereka. Mereka menegaskan bahwa tidak ada niat untuk menampilkan unsur yang bertentangan dengan nilai agama maupun budaya masyarakat setempat.
“Kami meminta maaf sebesar-besarnya kepada masyarakat. Kami menyesal karena kurang literasi dan tidak memahami bahwa konsep yang kami tampilkan dapat menimbulkan persepsi negatif,” ujar perwakilan peserta dalam klarifikasinya.
Polemik bermula setelah video penampilan peserta karnaval tersebut viral dijagat media sosial. Dalam video yang beredar, sejumlah peserta mengenakan kostum berwarna gelap dengan tata rias tertentu serta menampilkan adegan yang oleh sebagian warganet dianggap menyerupai ritual satanik. Reaksi publik pun bermunculan, mulai dari kritik hingga permintaan agar penyelenggara memberikan penjelasan.
Panitia Simbang Kulon Night Carnival juga turut menyampaikan permohonan maaf atas kegaduhan yang terjadi. Pihak panitia mengakui bahwa proses seleksi konsep dan pengawasan terhadap penampilan peserta perlu diperketat agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.
Selain itu, pemerintah desa setempat mengingatkan pentingnya literasi budaya dan pemahaman terhadap simbol-simbol yang digunakan dalam kegiatan publik. Karnaval, yang sejatinya menjadi ajang kreativitas dan hiburan masyarakat, diharapkan tetap menjunjung tinggi norma sosial, budaya, dan nilai keagamaan yang hidup di tengah masyarakat.
Meski menuai kontroversi, pihak peserta berharap masyarakat dapat menerima permohonan maaf mereka. Mereka berkomitmen untuk lebih berhati-hati dalam menyusun konsep penampilan pada kegiatan berikutnya agar kreativitas yang ditampilkan tidak menimbulkan kesalahpahaman.
Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat bahwa perkembangan kreativitas dalam seni pertunjukan perlu dibarengi dengan pemahaman yang baik terhadap konteks budaya dan sensitivitas masyarakat, terutama ketika sebuah karya ditampilkan di ruang publik.





