Lambeturah.co.id - Perkara tewasnya KD, pria yang dihakimi massa akibat diduga mencuri ayam sabung di Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, Tabanan, Bali, kini memasuki babak baru yang menyita perhatian publik.

Di tengah gelombang empati dan bantuan finansial yang mengalir dari netizen hingga para influencer, pihak keluarga KD kini resmi menunjuk tim kuasa hukum dari Aliansi Advokat Indonesia Bersatu (AAIB) Bali untuk mengawal kasus tersebut.

Sontak, langkah keluarga KD memicu reaksi keras di media sosial. Sejumlah netizen menyindir fenomena FOMO (Fear of Missing Out) para influencer dan selebriti yang dinilai terlalu cepat menggalang bantuan tanpa melihat dinamika hukum yang berpotensi menyudutkan warga lokal pelaku amuk massa.

AAIB Bali: Bantuan Hukum Bukan untuk Membenarkan Tindak Pidana

Juru Bicara Tim Kuasa Hukum AAIB Bali, Gede Yudi Sutrisna, menegaskan bahwa pendampingan hukum yang diberikan kepada keluarga KD bukan bertujuan untuk membenarkan dugaan pencurian yang dilakukan almarhum. Langkah ini murni untuk memastikan hak-hak hukum keluarga korban terlindungi selama proses penyidikan.

"Semua langkah yang kami lakukan bertujuan membela hak-hak hukum keluarga korban sehingga proses hukum dapat berjalan sesuai peraturan yang berlaku," ujar Yudi pada Kamis (30/7/2026).

Tim advokat yang dipimpin oleh Kadek Doni Riana bersama belasan pengacara lainnya memastikan akan mendampingi keluarga KD secara penuh saat berhadapan dengan penyidik kepolisian. Mereka menekankan bahwa asas praduga tak bersalah dan perlindungan hak asasi manusia tetap berlaku bagi siapa pun, terlepas dari status dugaan tindak pidana yang terjadi.

Disentil Netizen: Isu Beauty Privilege dan Kasus Selektif

Di balik sorotan hukum ini, publik juga menyoroti fenomena kepedulian media sosial yang dinilai tebang pilih. Kasus keluarga KD meledak di jagat maya salah satunya lantaran parasite visual atau beauty privilege yang menempel pada anak dan istri almarhum. Komentar mengenai paras yang cantik dan bersih membuat konten mengenai mereka viral secara masif hingga mendatangkan bantuan materiil.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan kasus tragis lain, seperti anak-anak korban pembunuhan satpam di Waduk Jatiluhur yang minim sorotan dan bantuan media sosial.

Fenomena ini memicu kritik mendalam dari warganet terhadap para influencer yang dianggap memanfaatkan momen bernilai jual tinggi demi konten semata, tanpa memikirkan dampak sosial yang lebih luas di tengah masyarakat.