Lambeturah.co.id - Sandy Tumiwa akhirnya menghapus unggahan foto hasil editan kecerdasan buatan (AI) yang menampilkan mantan istrinya, Tessa Kaunang, mengenakan hijab. Langkah tersebut dilakukan setelah Tessa melayangkan somasi terbuka karena merasa keberatan fotonya diedit dan dipublikasikan tanpa izin.
Melalui unggahan terbarunya, Sandy Tumiwa menyampaikan permintaan maaf sekaligus memberikan klarifikasi terkait foto yang sempat menuai polemik tersebut. Ia juga mengganti foto hasil editan AI dengan foto asli Tessa Kaunang.
Dalam pernyataannya, Sandy menegaskan bahwa unggahan tersebut tidak memiliki maksud untuk merendahkan, mempermalukan, menyudutkan, maupun merugikan pihak mana pun.
"Sehubungan dengan unggahan foto yang telah saya edit menggunakan teknologi AI dengan penambahan hijab, saya ingin menyampaikan bahwa unggahan tersebut sama sekali tidak dimaksudkan untuk merendahkan, mempermalukan, menyudutkan, ataupun merugikan pihak mana pun," tulis Sandy Tumiwa, Selasa (16/6/2026).
Menurut Sandy, editan foto tersebut dibuat sebagai bentuk penghormatan kepada Tessa Kaunang yang merupakan ibu dari anak-anak mereka. Ia mengaku terinspirasi oleh sosok perempuan yang dikenal penuh kasih sayang dan pengabdian terhadap keluarga.
"Motivasi saya semata-mata merupakan bentuk apresiasi dan penghormatan kepada Manda sebagai ibu dari anak-anak kami," lanjutnya.
Meski demikian, Sandy mengakui bahwa setiap orang memiliki pandangan dan kenyamanan yang berbeda. Karena itu, ia menyampaikan permohonan maaf apabila unggahan tersebut menimbulkan kesalahpahaman maupun ketidaknyamanan.
"Apabila unggahan tersebut menimbulkan ketidaknyamanan, kesalahpahaman, atau perasaan yang kurang berkenan bagi Manda maupun pihak lainnya, dengan tulus saya menyampaikan permohonan maaf," ungkapnya.
Sandy juga menegaskan dirinya menghormati pilihan hidup, keyakinan, dan martabat Tessa Kaunang sebagai individu maupun sebagai ibu dari anak-anak mereka. Ia berharap hubungan baik tetap terjaga demi kepentingan keluarga.
Sebelumnya, Tessa Kaunang melayangkan somasi terbuka karena menilai unggahan foto editan tersebut menyentuh isu yang sangat sensitif, terutama terkait keyakinan dan identitas pribadi.
Menurut Tessa, pengubahan foto tanpa izin dapat menimbulkan opini yang keliru di tengah masyarakat serta berdampak pada keluarga.
"Ini masalah keyakinan dan keimanan. Kalau dipermainkan dan tidak sesuai dengan aslinya, bisa menggiring opini dan berpengaruh ke keluarga juga," ujar Tessa.
Ia menegaskan somasi yang dilayangkan merupakan bentuk keberatan atas penggunaan dan penyebaran fotonya tanpa persetujuan. Tessa berharap kasus ini menjadi pelajaran bagi masyarakat agar lebih bijak menggunakan teknologi AI, terutama terhadap foto orang lain.
"Orang umum saja tidak suka diperlakukan seperti ini, apalagi kami yang merupakan figur publik," tegas Tessa Kaunang.





