Lambeturah.co.id — Kisah pilu datang dari Willi Mbuik, salah satu pegawai Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya yang menjadi korban penembakan kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Distrik Muliama, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan.
Willi Mbuik menjadi satu dari tiga pegawai Dinas Pertanian Jayawijaya yang meninggal dunia dalam insiden penembakan pada Rabu, 9 September 2026.
Sebelum peristiwa tragis tersebut, beredar video yang memperlihatkan momen komunikasi terakhir Willi dengan sang ayah melalui video call. Percakapan tersebut kemudian menjadi perhatian publik karena berlangsung sebelum Willi meninggal dunia dalam menjalankan tugasnya.
Momen komunikasi terakhir itu menambah kesedihan keluarga yang kini harus kehilangan sosok Willi untuk selamanya.
Berdasarkan keterangan Kodim 1702/Jayawijaya, Willi bersama sejumlah rekannya tengah menjalankan tugas kedinasan ketika rombongan mereka dihadang kelompok bersenjata.
Rombongan tersebut membawa bantuan berupa bibit babi untuk masyarakat sekaligus menjalankan kegiatan terkait program pertanian di wilayah Jayawijaya.
Dalam peristiwa tersebut, rombongan dilaporkan dipisahkan antara warga asli Papua (OAP) dan non-OAP. Tiga pegawai kemudian menjadi korban penembakan.
Ketiga korban yang teridentifikasi adalah Aprida Rapi, Alfonsius Albinus Meha, dan Willi Mbuik.
Willi dilaporkan mengalami luka tembak dan sempat mendapatkan penanganan medis sebelum akhirnya meninggal dunia.
Selain Willi, dua korban lainnya adalah Aprida Rapi yang menjabat sebagai Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan serta Alfonsius Albinus Meha yang bertugas sebagai dokter hewan.
Aparat kemudian mengevakuasi ketiga korban ke RSUD Wamena. Lima rekan mereka yang selamat dibawa ke Polres Jayawijaya untuk dimintai keterangan guna membantu mengungkap kronologi kejadian.
Kepala Operasi Damai Cartenz 2026 Irjen Faizal Ramadhani menyatakan penyelidikan dilakukan untuk mengungkap kelompok yang bertanggung jawab atas penembakan tersebut.
Pada perkembangan berikutnya, aparat menyebut aksi tersebut diduga dilakukan oleh KKB dari wilayah Nduga.
Di tengah duka keluarga, video call terakhir Willi bersama ayahnya menjadi sorotan.
Rekaman tersebut memperlihatkan komunikasi antara seorang anak dengan orang tuanya sebelum tragedi terjadi. Bagi keluarga, percakapan itu kini menjadi kenangan terakhir bersama Willi.
Pesan yang disampaikan Willi dalam percakapan tersebut terasa semakin menyayat hati setelah kabar kematiannya diketahui keluarga.
Kepergian Willi meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan orang-orang yang mengenalnya. Ia berada di Papua dalam kapasitasnya sebagai pegawai yang menjalankan tugas kedinasan.
Kini, keluarga harus menerima kenyataan bahwa tugas yang dijalankan Willi menjadi perjalanan terakhirnya.
Peristiwa tersebut juga kembali menjadi perhatian terhadap aspek keamanan bagi masyarakat sipil dan pegawai pemerintah yang menjalankan tugas di wilayah rawan konflik Papua.
Aparat keamanan masih melakukan penyelidikan dan pengejaran terhadap pihak yang diduga terlibat dalam penembakan tersebut.





