Lambeturah.co.id – Aksi sejumlah pendeta yang mengangkat salam tiga jari saat berada di mimbar gereja menjadi perhatian publik. Gestur tersebut dinilai sebagai simbol solidaritas sekaligus bentuk kepedulian terhadap persoalan keadilan dan kondisi sosial masyarakat.

Salah satu momen yang ramai diperbincangkan berasal dari Pendeta Rena Sesaria Yudhita saat menyampaikan khotbah di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Gejayan, Yogyakarta, pada Minggu (1/11/2026).

Dalam potongan video khotbah yang beredar di media sosial, Pdt. Rena terlihat mengangkat tiga jari sembari menyampaikan pesan mengenai keadilan, tanggung jawab iman, serta keberanian menyuarakan kebenaran di hadapan kekuasaan.

Aksi tersebut kemudian menarik perhatian setelah sejumlah pengguna media sosial turut membagikan gestur serupa dari gereja masing-masing.

Salam tiga jari atau three-finger salute sendiri dikenal sebagai simbol solidaritas dan perlawanan terhadap kekuasaan yang dianggap menindas. Gestur ini juga pernah digunakan dalam berbagai gerakan sosial dan demokrasi di sejumlah negara Asia.

Dalam khotbahnya, Pdt. Rena menghubungkan ajaran iman Kristen dengan keberanian menyampaikan kritik kepada penguasa. Ia merujuk pada Matius 23 yang menceritakan bagaimana Yesus mengkritik ketidakadilan dan perilaku para pemimpin agama pada masa itu.

Pesan yang disampaikan menekankan bahwa ketaatan kepada Kristus tidak berarti masyarakat harus menerima begitu saja setiap tindakan penguasa, terutama ketika kebijakan atau keputusan yang diambil dinilai mengabaikan kehidupan rakyat.

Fenomena salam tiga jari tersebut juga terlihat melalui sejumlah unggahan di platform Threads. Beberapa akun menyampaikan salam solidaritas dari lingkungan gereja, di antaranya HKBP, GKI Sangkrah, GKI Bintaro Utama, GPIB Marga Mulya Yogyakarta, Komisi Pemuda GKI Depok, GKI Sepanjang di Sidoarjo, hingga GPIB Filadelfia Semarang.

Meski demikian, unggahan tersebut merupakan laporan dari masing-masing pengguna media sosial dan belum dapat dipastikan sebagai pernyataan resmi jemaat maupun sinode gereja. Belum ada pula keterangan yang menunjukkan bahwa aksi tersebut merupakan gerakan terkoordinasi secara nasional.

Di sisi lain, keberanian menyuarakan keadilan juga memiliki sejumlah rujukan dalam kisah Alkitab. Salah satunya adalah Nabi Natan yang berani menegur Raja Daud atas kesalahannya sebagaimana diceritakan dalam 2 Samuel 12:1-13.

Selain itu, Yohanes Pembaptis juga dikenal berani menegur Herodes atas tindakan yang dilakukannya. Kisah tersebut tercatat dalam Lukas 3:19-20.

Kedua kisah tersebut memperlihatkan bahwa kedudukan dan kekuasaan tidak membuat seseorang terbebas dari tanggung jawab moral.

Dalam konteks kehidupan masyarakat saat ini, gereja diharapkan tidak hanya menjadi tempat peribadatan, tetapi juga ruang untuk membangun kepedulian terhadap sesama dan berbagai persoalan kemanusiaan.

Sikap menyampaikan kritik pun perlu dilakukan dengan mengedepankan fakta, menghormati martabat manusia, serta berorientasi pada perbaikan. Prinsip tersebut sejalan dengan pesan Efesus 4:15 tentang menyampaikan kebenaran dalam kasih.

Fenomena pendeta mengangkat salam tiga jari di mimbar gereja akhirnya menjadi perhatian tersendiri. Gestur tersebut memperlihatkan bagaimana simbol solidaritas yang sebelumnya banyak terlihat dalam aksi sosial dapat hadir pula di ruang keagamaan sebagai bagian dari pesan tentang keadilan, kepedulian, dan tanggung jawab iman.