Lambeturah.co.id - Ratusan buruh perempuan PT Namnam Fashion Industries di Kelurahan Cigugur Tengah, Kecamatan Cimahi Tengah, Kota Cimahi, menjadi sorotan publik setelah video yang memperlihatkan tangisan mereka viral di media sosial. Para pekerja tersebut diketahui menjadi korban pemutusan hubungan kerja (PHK) massal setelah perusahaan menghentikan aktivitas produksinya.

Dalam video yang beredar, suasana haru menyelimuti lingkungan pabrik. Sejumlah buruh tampak menangis karena harus kehilangan pekerjaan yang selama ini menjadi sumber penghasilan mereka.

Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Cimahi, Asep Jayadi, membenarkan adanya PHK yang menimpa ratusan pekerja di perusahaan garmen tersebut.

"Menurut informasi memang ada PHK. Total buruh yang terdampak sebanyak 178 orang," ujar Asep saat dikonfirmasi pada Selasa (4/8/2026).

Menurut Asep, informasi sementara yang diterima pihaknya menyebutkan bahwa perusahaan mengalami kesulitan menanggung biaya produksi di tengah kondisi ekonomi yang belum stabil, baik di dalam negeri maupun secara global. Selain itu, perusahaan dikabarkan berencana mengubah jenis usahanya.

"Informasinya mereka sudah tidak kuat menanggung biaya produksi. Rencananya perusahaan juga akan beralih ke jenis usaha lain. Saat ini kami masih melakukan penelusuran untuk memastikan seluruh informasi tersebut," jelasnya.

Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menilai peristiwa PHK di sektor industri garmen merupakan fenomena yang telah lama terjadi. Menurutnya, industri padat karya memiliki karakter yang berbeda dengan industri padat modal karena sangat dipengaruhi oleh biaya produksi.

Dedi menjelaskan, perusahaan garmen umumnya akan memindahkan lokasi produksi apabila menemukan daerah lain yang menawarkan biaya tenaga kerja lebih rendah setelah perusahaan mencapai titik impas atau break-even point (BEP).

"Kalau perusahaan sudah mencapai break-even point lalu ada daerah lain dengan biaya tenaga kerja yang lebih murah, biasanya mereka memilih pindah. Kondisi seperti ini sudah sering terjadi," kata Dedi.

Ia menambahkan, berbeda dengan industri padat modal yang cenderung melakukan investasi jangka panjang di satu lokasi, industri garmen lebih fleksibel dalam menentukan tempat produksi. Karena itu, perpindahan maupun penutupan pabrik menjadi bagian dari dinamika industri tersebut.

Dedi juga mengingatkan bahwa pekerja di sektor garmen perlu memahami karakter industri padat karya yang memiliki siklus usaha tertentu, sehingga potensi relokasi maupun penghentian operasional perusahaan dapat terjadi sewaktu-waktu ketika biaya produksi tidak lagi kompetitif.