Lambeturah.co.id - Seorang siswi SMK di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, Febiona Purba (16), masih menjalani pengobatan setelah diduga mengalami keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kondisi Febiona disebut sempat memburuk. Bahkan, siswi berprestasi tersebut diduga mengalami gangguan ingatan hingga tidak mengenali sejumlah anggota keluarga dan teman-temannya.
Selama lebih dari tiga minggu, Febiona telah berpindah-pindah rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Pada Senin (27/9/2026), ia kembali dibawa dari Rumah Sakit Berastagi menuju RSUP Adam Malik, Medan.
Febiona datang bersama ibunya, Elvinus Lusiana Sitanggang (49), serta sejumlah kerabat. Mereka turut didampingi petugas Badan Gizi Nasional (BGN) dari Karo dan Medan.
Setibanya di RSUP Adam Malik, Febiona yang menggunakan kursi roda langsung dibawa melewati Instalasi Gawat Darurat sebelum menjalani pemeriksaan di Poli Psikiatri.
Ia kemudian diperiksa oleh sejumlah dokter spesialis, mulai dari dokter spesialis gastro anak, neurologi anak hingga psikiatri. Setelah mendapatkan pemeriksaan dan sejumlah obat, Febiona diperbolehkan pulang ke kediamannya di Kabupaten Karo.
Sang ibu mengungkapkan kondisi anaknya masih memprihatinkan. Salah satu yang menjadi perhatian adalah kondisi lidah Febiona yang disebut mengalami perubahan.
“Lidahnya agak masuk ke dalam. Sampai ngomong pun dia agak sulit,” ujar Elvinus.
Selain mengalami kesulitan berbicara, Febiona juga disebut sempat mengalami gangguan ingatan. Kondisi itu diketahui saat sejumlah keluarga dan teman datang menjenguknya ketika menjalani perawatan di rumah.
Menurut Elvinus, anaknya bahkan sempat tidak mengenali orang-orang terdekatnya.
“Contohnya keluarga. Bibinya kalau datang, ini siapa. Kami kasih tahu, ini Bibi. Adik-adiknya juga begitu, tidak ingat. Kawan-kawannya di sekolah datang pun tidak kenal,” katanya.
Berawal Usai Menyantap MBG Lauk Ikan Tongkol
Elvinus mengatakan, Febiona mulai mengalami gejala setelah menyantap makanan MBG di sekolah pada Kamis (13/8/2026).
Saat itu, Febiona berangkat ke SMK Bersama Berastagi dalam kondisi sehat. Di sekolah, ia menyantap makanan MBG dengan lauk ikan tongkol.
Menurut cerita Febiona kepada keluarganya, ikan tersebut terasa pahit dan keras. Namun karena merasa lapar, ia tetap menghabiskan makanan tersebut.
“Rasanya pahit dan keras, katanya. Tapi pikirnya memang begitu rasanya. Makan saja dia karena sudah lapar,” ujar Elvinus.
Tak lama setelah itu, Febiona mulai mengalami pusing. Meski demikian, ia masih berusaha mengikuti kegiatan belajar di sekolah.
Febiona diketahui merupakan siswi berprestasi. Ia disebut pernah meraih peringkat pertama di kelas dan aktif dalam kegiatan sekolah sebagai wakil ketua OSIS.
Namun setelah pulang ke rumah, kondisinya justru semakin memburuk. Ia mengalami pusing hebat, tubuh terasa gatal, muntah, hingga mendadak lemas.
Keluarga kemudian meminta bantuan seorang anggota TNI yang berada di sekitar rumah untuk membawa Febiona ke RSU Kabanjahe.
Saat tiba di rumah sakit, Febiona disebut sudah tidak sadarkan diri.
“Itu posisinya sudah tidak sadar. Sesudah setengah jam di rumah sakit, baru sadar dia,” ungkap Elvinus.
Febiona sempat menjalani perawatan selama tiga hari sebelum diperbolehkan pulang. Namun, ia kembali mengalami kejang sehingga harus dilarikan ke Rumah Sakit Efarina Berastagi.
Dua hari kemudian, Febiona dirujuk ke Rumah Sakit Umum Haji dan menjalani perawatan selama sekitar satu minggu.
Setelah itu, Febiona menjalani rawat jalan dan beberapa kali melakukan kontrol kesehatan ke RSUP Adam Malik karena jarak menuju RSU Haji dinilai cukup jauh dari rumahnya.
Pada Sabtu (5/9/2026), kondisi Febiona kembali memburuk setelah mengalami kejang-kejang. Ia pun kembali dilarikan ke Rumah Sakit Amanda.
“Baru tadi pagi dibawa untuk kontrol kesehatan ke sini. Habis ini pulang ke rumah. Besok ambil hasil dari dokter,” katanya.
Elvinus berharap putrinya segera mendapatkan penanganan dan pengobatan yang tepat. Ia mengaku lelah karena Febiona harus terus berpindah dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya.
Terlebih, Febiona disebut sudah ingin kembali bersekolah dan berkumpul bersama teman-temannya.
“Kami pun capek. Tolong dikasih obatnya yang tepat. Dia selalu bilang mau sekolah. Tapi bagaimana mau kita kasih sekolah,” tuturnya.
BGN Sebut Ada Kelalaian Fatal
Sebelumnya, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menyatakan pihaknya akan membuka hasil investigasi terkait kasus dugaan keracunan MBG di Kabupaten Karo secara transparan.
Ia menyebut hasil investigasi akan disampaikan secara terbuka dan tidak ditutup-tutupi.
Sudaryono mengungkapkan, dugaan penyebab keracunan berkaitan dengan ikan yang disebut tidak disimpan di ruang pendingin selama lebih dari 12 jam.
Ia juga menyebut hasil pemeriksaan telah berada di Dinas Kesehatan dan ditemukan adanya dugaan kelalaian fatal dari petugas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Sebagai tindak lanjut, dapur SPPG terkait telah ditutup dan kepala SPPG disebut telah dicopot dari jabatannya.
Hingga saat ini, sebanyak 64 anak dilaporkan masih menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit setelah diduga mengalami keracunan makanan program MBG di wilayah Berastagi, Kabupaten Karo.





