Lambeturah.co.id — Pemerintah Prancis menangkap lebih dari 1.800 orang menyusul aksi demonstrasi yang berujung ricuh di sejumlah kota. Kerusuhan tersebut diwarnai bentrokan antara demonstran dan polisi, penjarahan toko, hingga pembakaran sejumlah bangunan dan kendaraan.
Dilansir dari AFP pada Minggu (18/10/2026), jumlah penangkapan tersebut meningkat dari laporan sebelumnya yang mencatat sekitar 1.200 orang. Menteri Dalam Negeri Prancis, Laurent Nunez, menyatakan bahwa pihak berwenang masih melakukan penyelidikan untuk mengidentifikasi pelaku kerusuhan agar dapat diproses secara hukum.
Perdana Menteri Prancis, Sébastien Lecornu, sebelumnya menyampaikan bahwa sekitar 150 anggota kepolisian mengalami luka-luka dalam bentrokan tersebut.
Paris menjadi salah satu wilayah yang terdampak paling parah. Kepolisian Paris melaporkan telah menangkap 855 orang dalam rangkaian kerusuhan tersebut. Jumlah itu disebut sebagai rekor penangkapan terkait kekerasan selama demonstrasi di ibu kota Prancis.
Kantor Kejaksaan Paris mencatat sebanyak 517 orang berada dalam proses penanganan, terdiri atas 346 orang dewasa dan 171 anak di bawah umur. Angka tersebut masih bersifat sementara dan dapat berubah seiring perkembangan penyelidikan.
Sejumlah orang ditangkap atas dugaan menerima atau menyimpan barang hasil curian, terlibat dalam persekongkolan untuk melakukan kekerasan, serta merusak fasilitas umum.
Wakil Wali Kota Paris, Lamia El Aaraje, menggambarkan situasi tersebut sebagai tingkat kekerasan yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Aksi demonstrasi yang berlangsung di berbagai kota Prancis pada awalnya berjalan damai. Namun, situasi berubah setelah sejumlah kelompok melakukan tindakan kekerasan yang menyasar bangunan publik, pertokoan, kendaraan, dan aparat keamanan.
Di Limoges, gedung balai kota dilaporkan terbakar. Sementara itu, di Marseille, sekelompok demonstran menerobos masuk ke balai kota dan mencoret-coret bangunan dengan grafiti bernuansa anarkis.
Kerusuhan juga terjadi di Lyon, ketika kantor pariwisata kota menjadi sasaran pembakaran. Sejumlah toko dan butik turut dijarah, termasuk gerai pakaian serta toko telepon seluler.
Selain merusak bangunan, massa juga membakar sejumlah benda dan kendaraan di jalanan.
Untuk mengendalikan situasi, aparat kepolisian menggunakan gas air mata dan meriam air. Langkah tersebut dilakukan setelah sejumlah demonstran melemparkan benda-benda ke arah petugas dan menembakkan kembang api.
Insiden lain dilaporkan terjadi di Saint-Etienne, Prancis bagian selatan. Seorang remaja laki-laki berusia 17 tahun kehilangan tangan kanannya akibat ledakan granat pengendali massa.
Pemerintah dan aparat keamanan kini melanjutkan penyelidikan terhadap rangkaian kekerasan tersebut. Penanganan hukum terhadap para tersangka diharapkan dapat mengungkap pihak-pihak yang bertanggung jawab atas kerusuhan, penjarahan, dan perusakan fasilitas umum.





