Lambeturah.co.id - Media sosial mendadak dihebohkan oleh unggahan video yang memperlihatkan antrean panjang masyarakat, yang didominasi oleh perempuan, di depan kantor Pengadilan Agama (PA) Bandung. Rekaman tersebut menjadi perbincangan hangat setelah memperlihatkan warga yang sudah memadati lokasi sejak pagi hari.
Fenomena ini bermula dari unggahan akun Threads `@selyrhania` yang membagikan ulang tangkapan layar status WhatsApp. Dalam unggahannya, ia mengomentari padatnya antrean tersebut dengan nada terkejut, melihat banyaknya wanita di Bandung yang mendatangi Pengadilan Agama sejak pagi.
Unggahan tersebut langsung memicu berbagai respons dan warganet berdiskusi mengenai faktor utama di balik tingginya angka perceraian di Jawa Barat. Sebagian netizen menyoroti masalah terburu-buru dalam melangkah ke jenjang pernikahan tanpa persiapan matang, sementara netizen lainnya membagikan pengalaman pribadi terkait perselingkuhan pasangan.
Data Pengadilan Agama dan Pemicu Utama
Berdasarkan data resmi dari Pengadilan Agama Bandung, fenomena tingginya permohonan perceraian memang tercatat secara signifikan. Mulai dari Januari hingga pertengahan Juli 2026, tercatat sebanyak 4.175 perkara perceraian yang masuk.
Pihak panitera PA Bandung mengungkapkan bahwa terdapat dua faktor dominan yang menjadi penyebab utama perceraian, yaitu:
1. Masalah Ekonomi: Kesulitan finansial yang memicu keretakan dalam hubungan rumah tangga.
2. Gangguan Pihak Ketiga (Perselingkuhan): Masalah ketidaksetiaan yang merusak kepercayaan antar pasangan.
Tidak hanya di Kota Bandung, fenomena serupa juga menjadi sorotan di Kabupaten Bandung. Pihak pemerintah daerah menyoroti maraknya jeratan pinjaman online (pinjol), bank emok (pinjaman mikro informal), hingga judi online (judol) sebagai pemicu utama rusaknya ketahanan ekonomi keluarga. Dampaknya, sebanyak 70 hingga 80 persen perkara yang masuk merupakan cerai gugat yang diajukan oleh pihak istri.
Meski antrean dalam video yang beredar pada Selasa (22/9/2026) tersebut menuai beragam spekulasi, data lapangan mengonfirmasi bahwa persoalan ekonomi dan ketidaksetiaan memang masih menjadi tantangan terbesar bagi ketahanan rumah tangga di wilayah Bandung dan sekitarnya.





