Lambeturah.co.id - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan peningkatan titik api atau hotspot di sejumlah wilayah Indonesia. Kalimantan Tengah (Kalteng) dan Sumatera Selatan (Sumsel) menjadi dua daerah yang mengalami lonjakan titik api cukup signifikan.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton S.P. Panjaitan, menyampaikan bahwa total titik api yang terdeteksi mencapai 864 titik. Sementara itu, luas lahan yang masih dalam penanganan akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tercatat mencapai 1.615 hektare.
Dalam konferensi pers di Kantor BNPB, Jakarta Timur, Rabu (4/11/2026), Berton mengatakan jumlah hotspot di Kalimantan Tengah meningkat hingga 50 persen dibandingkan hari sebelumnya.
"Jumlah hotspot meningkat 50 persen menjadi 425 dari hari kemarin, serta jumlah lahan yang dalam penanganan sebesar 664 hektare dan ini pun mengalami kenaikan 21 persen," ujar Berton.
Lonjakan titik api juga terjadi di Sumatera Selatan. BNPB mencatat penambahan sebanyak 60 titik api atau meningkat sekitar 186 persen dibandingkan hari sebelumnya.
Selain itu, luas lahan yang masih dalam penanganan di Sumatera Selatan mencapai 105 hektare. Angka tersebut mengalami kenaikan sebesar 66 persen.
Berbeda dengan kedua wilayah tersebut, kondisi karhutla di Papua Selatan menunjukkan perkembangan positif. Jumlah titik api di wilayah itu turun signifikan menjadi 120 titik. Luas lahan yang masih ditangani juga berkurang 78 persen menjadi 203 hektare.
Sementara itu, di Nusa Tenggara Timur (NTT), jumlah titik api mengalami penurunan sebesar 27 persen. Namun, luas lahan yang masih dalam penanganan justru meningkat menjadi 58 hektare.
Kondisi berbeda juga terlihat di Jambi. BNPB mencatat adanya penambahan 150 titik api atau meningkat 134 persen dibandingkan hari sebelumnya. Luas lahan yang masih dalam penanganan di daerah tersebut turut bertambah hingga 403 hektare.
Adapun di Kalimantan Timur, jumlah titik api mengalami penurunan sebanyak 85 titik. Meski demikian, luas lahan terbakar yang masih ditangani justru meningkat signifikan menjadi 182 hektare.
Melihat perkembangan tersebut, BNPB meminta pemerintah daerah meningkatkan kewaspadaan dan segera mengambil tindakan apabila menemukan titik api baru di wilayah masing-masing.
Berton menegaskan, penanganan sejak dini menjadi langkah penting untuk mencegah kebakaran meluas dan semakin sulit dikendalikan.
"Selagi masih bisa kita tangani tentu kita mengupayakan bersama secara maksimum upaya yang dilaksanakan," tuturnya.
BNPB berharap pemerintah daerah bersama seluruh pihak terkait dapat memperkuat upaya pemadaman dan pengendalian karhutla agar kebakaran tidak semakin meluas, terutama di wilayah yang mengalami peningkatan titik api.





