Lambeturah.co.id - Pengerahan 20.980 personel Tentara Nasional Indonesia (TNI) ke Jakarta menjadi sorotan sejumlah media internasional. Mobilisasi pasukan dalam jumlah besar tersebut berlangsung ketika kasus dugaan penyadapan terhadap Presiden Prabowo Subianto yang menyeret mantan Kapolri Jenderal (Pol) Listyo Sigit Prabowo dan dua perwira tinggi Polri lainnya tengah menjadi perhatian publik.
Pengerahan pasukan itu tertuang dalam Surat Telegram Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto Nomor STR/96/2026 tertanggal 2 November 2026. Dalam surat tersebut, mobilisasi personel dilakukan untuk memperkuat pengamanan menyusul perkembangan situasi keamanan di wilayah Jakarta.
Pasukan tersebut berasal dari berbagai daerah, di antaranya Bandung, Cirebon, Lampung, Malang, hingga Banyuwangi. Total personel yang tercantum dalam pengerahan tersebut mencapai 20.980 orang.
Mobilisasi pasukan ini kemudian mendapat perhatian dari sejumlah media asing, termasuk New Straits Times, Channel News Asia (CNA), dan Associated Press (AP). Ketiga media tersebut menyoroti besarnya jumlah personel yang dikerahkan ke Ibu Kota ketika penyelidikan dugaan penyadapan terhadap Presiden Prabowo berlangsung.
New Straits Times Soroti Dinamika Politik Indonesia
Media Malaysia, New Straits Times, mengaitkan pengerahan pasukan TNI ke Jakarta dengan perkembangan kasus dugaan penyadapan yang menyeret mantan Kapolri Listyo Sigit.
Dalam artikel berjudul "Pasukan dikerahkan di Indonesia setelah presiden memecat ajudannya yang dituduh melakukan penyadapan", media tersebut memberitakan mobilisasi ribuan personel militer untuk memperkuat keamanan di Ibu Kota.
New Straits Times turut mengulas pernyataan pihak Istana yang menyebut dugaan penyadapan terhadap kepala negara berpotensi mengarah pada tindakan pengkhianatan. Pasalnya, informasi sensitif yang diperoleh melalui komunikasi Presiden dinilai dapat membahayakan kepentingan negara maupun keselamatan pemimpin nasional.
Media tersebut juga menyoroti latar belakang politik Listyo Sigit yang sebelumnya menjabat sebagai Kapolri dan dikenal sebagai loyalis mantan Presiden Joko Widodo.
Selain itu, New Straits Times mengutip pernyataan juru bicara TNI AL Tunggul. Ia menyebut pengerahan pasukan bertujuan menjaga serta melindungi stabilitas keamanan Indonesia.
Namun, Tunggul juga menjelaskan bahwa pergerakan personel tersebut berkaitan dengan persiapan latihan militer di sejumlah daerah sekitar Jakarta.
New Straits Times turut mengutip pandangan Sana Jaffrey, peneliti pembangunan negara dari Australian National University. Menurut Jaffrey, pengerahan pasukan tersebut dapat mencerminkan kekhawatiran terhadap potensi ketegangan antara militer dan kepolisian yang memiliki hubungan dengan mantan Kapolri Listyo Sigit.
Ia menilai, apabila Presiden Prabowo semakin memandang adanya ancaman terhadap keamanan pribadinya, kondisi tersebut berpotensi membuat pemerintah semakin mengandalkan militer.
CNA Soroti Jumlah 20.980 Personel TNI
Sorotan serupa disampaikan Channel News Asia (CNA). Media asal Singapura tersebut secara khusus menyoroti jumlah personel TNI yang dikerahkan ke Jakarta di tengah penyelidikan dugaan penyadapan terhadap Presiden Prabowo.
Dalam laporannya, CNA menyebut pengerahan dilakukan secara bertahap. Pada tahap pertama, sebanyak 2.100 personel dari satuan yang telah berada di Jakarta dilibatkan.
Selanjutnya, personel dari luar Ibu Kota mulai berdatangan pada Rabu (4/11/2026). Pasukan tersebut berasal dari satuan Marinir dan Angkatan Laut, termasuk pusat pelatihan serta pangkalan TNI AL di sejumlah wilayah Pulau Jawa dan Lampung.
Selain 20.980 personel yang terlibat dalam mobilisasi tersebut, terdapat pula 13.140 personel tambahan yang disiagakan dan dapat dikerahkan apabila diperlukan.
Meski demikian, CNA menegaskan bahwa pihak berwenang belum mengonfirmasi adanya hubungan langsung antara pengerahan pasukan TNI dan penyelidikan kasus dugaan penyadapan.
Media tersebut mengutip pernyataan juru bicara TNI Muhammad Nas yang menyebut pergerakan pasukan merupakan bagian dari prosedur standar untuk menjaga keamanan nasional dan keutuhan wilayah Indonesia.
CNA juga menyoroti pencopotan Listyo Sigit dari jabatan KSP oleh Presiden Prabowo. Posisi tersebut untuk sementara diisi oleh Letjen TNI Ariyo Windutomo.
Associated Press Soroti Penahanan Tiga Perwira Tinggi Polri
Media internasional lainnya, Associated Press (AP), turut memberitakan pengerahan lebih dari 20.000 personel TNI ke Jakarta.
Dalam laporannya, AP mengaitkan waktu mobilisasi pasukan dengan penyelidikan dugaan penyadapan terhadap Presiden Prabowo. Kasus tersebut juga menjadi perhatian setelah tiga perwira tinggi Polri ditahan karena diduga terlibat dalam operasi penyadapan ilegal.
AP turut mengulas pernyataan pihak Istana yang menyebut dugaan penyadapan terhadap Presiden berpotensi mengarah pada tindakan pengkhianatan.
Media tersebut menjelaskan bahwa pengerahan pasukan dilakukan dalam beberapa tahap. Sebanyak 2.100 personel dari satuan yang telah berada di Jakarta dilibatkan pada tahap awal, sebelum pasukan dari luar Ibu Kota tiba pada Rabu.
Secara keseluruhan, jumlah personel yang dikerahkan mencapai 20.980 orang. Sementara itu, 13.140 personel tambahan disiapkan untuk memperkuat pasukan apabila dibutuhkan.
Sama seperti CNA, AP mencatat bahwa pemerintah belum memberikan konfirmasi mengenai adanya keterkaitan langsung antara mobilisasi pasukan TNI dan penyelidikan kasus dugaan penyadapan.
AP juga mengutip pernyataan juru bicara TNI Muhammad Nas yang menyebut pengerahan pasukan merupakan bagian dari kegiatan rutin untuk menjaga kesiapsiagaan militer.
Besarnya jumlah personel yang dikerahkan ke Jakarta di tengah mencuatnya kasus dugaan penyadapan tersebut pun menjadi perhatian media internasional. Meski demikian, penjelasan resmi TNI menyebut mobilisasi itu berkaitan dengan penguatan keamanan dan kesiapsiagaan militer.





