Lambeturah.co.id - Sebuah foto yang memperlihatkan jenazah dibawa menggunakan sepeda motor di Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, sempat viral dan mengundang berbagai pertanyaan dari masyarakat. Namun, di balik foto tersebut terdapat cerita keluarga yang ingin menyatukan makam orang-orang tercinta dalam satu lokasi.
Jenazah yang terlihat dalam foto tersebut ternyata bukan warga yang baru meninggal dunia. Jasad itu merupakan makam seorang ayah yang telah dimakamkan sejak tahun 1985 di kawasan Pasir Meong, Desa Cililin, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat.
Setelah puluhan tahun berlalu, keluarga almarhum yang kini tinggal di Desa Batulayang memutuskan untuk memindahkan makam sang ayah ke Tempat Pemakaman Umum (TPU) RW 4 Desa Batulayang.
Pemindahan makam dilakukan agar seluruh anggota keluarga dapat dimakamkan dalam satu lokasi sehingga lebih mudah saat berziarah, berdoa, menggelar tahlilan, maupun berkumpul ketika momen tertentu seperti Hari Raya Idulfitri.
Kepala Desa Batulayang, Imam Mujahidin, menjelaskan bahwa pemindahan makam dilakukan atas inisiatif keluarga setelah adanya anggota keluarga lain yang meninggal dunia.
"Setelah kami konfirmasi kepada pihak keluarga, ternyata ayah mereka meninggal pada tahun 1985. Kebetulan ada anggota keluarga lain yang baru meninggal sehingga keluarga berinisiatif memindahkan makam agar seluruh anggota keluarga dimakamkan di satu lokasi," ujar Imam saat dikonfirmasi, Senin (13/7/2026).
Saat proses pembongkaran makam dilakukan, keluarga mendapatkan kejutan. Jasad yang telah dimakamkan selama kurang lebih 40 tahun tersebut ternyata masih dalam kondisi utuh.
Kondisi itu membuat keluarga tidak menyangka harus memindahkan jenazah dalam keadaan tersebut. Karena jarak antara lokasi makam lama dan makam baru cukup dekat, keluarga akhirnya membawa jenazah menggunakan sepeda motor.
"Karena tidak menyangka jenazahnya masih utuh, mereka mungkin terburu-buru memindahkannya. Jaraknya juga relatif dekat sehingga akhirnya dibawa menggunakan sepeda motor," kata Imam.
Momen pemindahan jenazah itulah yang kemudian terekam kamera dan menyebar luas di media sosial. Foto tersebut sempat menimbulkan berbagai spekulasi sebelum akhirnya diketahui alasan sebenarnya.
Imam mengatakan, pemerintah desa tidak mengetahui adanya proses pemindahan makam tersebut karena pihak keluarga belum melakukan koordinasi sebelumnya.
Padahal, jika pemerintah desa mendapat pemberitahuan, pihaknya dapat membantu menyediakan kendaraan yang lebih layak seperti ambulans untuk proses pemindahan jenazah.
"Kalau sebelumnya ada koordinasi dengan pemerintah desa, tentu kami bisa memfasilitasi, termasuk menyediakan ambulans atau kendaraan yang lebih layak. Namun, dalam kejadian ini memang tidak ada pemberitahuan kepada pihak desa," jelas Imam.
Ia menegaskan penggunaan sepeda motor murni merupakan keputusan keluarga karena kondisi yang tidak terduga, bukan karena tidak adanya fasilitas dari pemerintah desa.
Imam mengaku baru mengetahui kejadian tersebut pada Minggu pagi sekitar pukul 08.00 WIB setelah mendapat informasi dari pihak kecamatan.





