Lambeturah.co.id - Kondisi memprihatinkan menyelimuti para pengungsi dan warga terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Memasuki hari kelima pasca-bencana, warga yang berada di posko pengungsian mulai menerima bantuan logistik dari pemerintah. Namun, jumlah alokasi bantuan yang dinilai sangat minim dan tak sebanding dengan jumlah jiwa mengundang keluhan dari masyarakat setempat.
Melalui unggahan video yang memicu keprihatinan publik di media sosial Threads (sebagaimana dibagikan oleh akun frasiska_aja), warga memperlihatkan secara langsung paket bantuan pangan yang baru mereka terima di posko penampungan.
Tampak di atas meja, pasokan bantuan pokok yang dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan satu Rukun Tetangga (RT) yang dihuni setidaknya oleh 30 Kepala Keluarga (KK) hanya terdiri dari:
• 15 kg beras
• 1 dus mi instan
• 10 butir telur ayam
• 0,25 liter minyak goreng
"Di hari ke-5 kami pasca gempa kami dapat bantuan dari pemerintah," ungkap narasi dalam video tersebut saat memperlihatkan minimnya porsi logistik yang diterima.
Kondisi ini memperlihatkan tantangan besar dalam manajemen pembagian serta distribusi logistik di lapangan pada masa tanggap darurat. Jika bantuan pangan tersebut harus dibagi rata untuk 30 KK, setiap keluarga praktis hanya mendapatkan porsi yang sangat terbatas dan jauh dari kata cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar harian.
Meskipun pasokan logistik sudah mulai menyentuh titik-titik lokasi pengungsian, warga berharap adanya perhatian serta perbaikan skema distribusi dari pihak penanggulangan bencana dan pemerintah daerah. Hal ini dinilai krusial agar alokasi bantuan dapat disesuaikan dengan jumlah populasi pengungsi di setiap titik posko secara lebih proporsional.





