Lambeturah.co.id - Peternakan sapi Dago Dairy di Bandung resmi menghentikan operasional setelah hampir dua tahun menghadapi kesulitan mendapatkan tenaga kerja. Kondisi tersebut membuat pengelola kesulitan menjalankan aktivitas peternakan secara optimal.
Kabar penutupan Dago Dairy disampaikan melalui akun Instagram @dago_dairy. Dalam video yang dibagikan, pemilik Dago Dairy, Mark Hallet atau Mr. Mark, bersama istrinya, Yanti, menjelaskan alasan di balik keputusan untuk mengakhiri usaha peternakan tersebut.
Mr. Mark mengatakan, selama hampir dua tahun pihaknya mengalami kekurangan pekerja. Menurutnya, minat anak muda untuk bekerja di sektor peternakan juga semakin rendah.
"Hampir dua tahun kami kekurangan karyawan. Anak muda tidak berminat untuk bekerja di peternakan," ujar Mr. Mark.
Kondisi kekurangan tenaga kerja membuat pekerjaan di Dago Dairy harus dilakukan dengan personel yang terbatas. Bahkan, salah satu pengelola disebut harus bekerja hingga dua shift untuk memastikan operasional peternakan tetap berjalan.
Situasi tersebut membuat pengelola tidak memiliki cukup waktu untuk melakukan perawatan terhadap sapi maupun memperbaiki fasilitas kandang.
"Saya harus bekerja dua shift. Saya tidak punya waktu untuk merawat sapi dengan baik atau memperbaiki kandang," lanjutnya.
Selain persoalan tenaga kerja, keputusan menutup Dago Dairy juga dipengaruhi faktor keberlanjutan usaha keluarga.
Yanti mengungkapkan, kedua putra mereka saat ini tinggal di Australia. Meski disebut mencintai Indonesia, keduanya tidak memiliki keinginan untuk meneruskan usaha peternakan sapi yang telah dijalankan keluarga.
"Kedua putra kami tinggal di Australia. Mereka mencintai Indonesia, tetapi tidak ingin melanjutkan peternakan," kata Yanti.
Dalam pengumuman penutupannya, Dago Dairy turut menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada para pekerja serta berbagai pihak yang telah memberikan dukungan selama perjalanan usaha tersebut.
Ucapan terima kasih disampaikan kepada sejumlah pihak, termasuk Cafe dan Bakery, Rumah Sakep Romius dan Advent, Supermarket Yogyakarta, Supermarket Setia Budi, Rosa Arts, serta Dr. Rasep.
Sementara itu, untuk mengonfirmasi lebih lanjut mengenai penutupan Dago Dairy, pihak detikFood telah berupaya menghubungi pemilik pada 27 Agustus. Namun, pemilik disebut memilih untuk tidak memberikan keterangan lebih lanjut.
Penutupan Dago Dairy menjadi perhatian karena persoalan kekurangan tenaga kerja ternyata turut menjadi tantangan bagi keberlangsungan usaha peternakan, terutama ketika tidak ada generasi penerus keluarga yang bersedia melanjutkan bisnis tersebut.





