Lambeturah.co.id - Camat Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Agustinus Supratman, mengundurkan diri dari jabatannya setelah video dirinya memprotes penyaluran bantuan bagi korban gempa viral di media sosial.
Agustinus mengatakan telah menyampaikan surat pengunduran diri secara resmi kepada Bupati Manggarai Timur pada 23 Agustus 2026.
Dalam video yang beredar, Agustinus menjelaskan bahwa keputusan tersebut diambil demi kepentingan masyarakat Lamba Leda Utara. Ia mengakui pengunduran diri di tengah situasi bencana bukan keputusan yang ideal.
"Keputusan ini memang tidak elok di tengah situasi seperti ini. Namun keputusan ini harus diambil untuk kebaikan bersama dan untuk kepentingan Lamba Leda Utara yang lebih besar," ujar Agustinus.
Ia juga menegaskan bahwa pengunduran dirinya tidak dilakukan karena tekanan dari pihak mana pun. Menurutnya, keputusan tersebut merupakan hasil pertimbangan bersama keluarganya.
"Keputusan ini tanpa tekanan. Keputusan ini murni keputusan keluarga kecil kami sendiri untuk kebaikan bersama dan untuk kepentingan Lamba Leda Utara yang lebih besar," katanya.
Meski tak lagi menjabat sebagai camat, Agustinus memastikan dirinya tetap akan membantu masyarakat, terutama warga yang terdampak gempa. Ia menyatakan akan terlibat dalam penanganan bencana melalui jalur relawan.
Sempat Protes Penyaluran Bantuan
Sebelumnya, nama Agustinus menjadi sorotan setelah video dirinya meluapkan emosi kepada seorang pejabat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) beredar luas di media sosial.
Dalam video tersebut, Agustinus mempersoalkan jumlah bantuan yang diterima di posko logistik kecamatan. Ia merasa jumlah bantuan yang tersedia tidak sesuai dengan informasi mengenai banyaknya bantuan yang telah disalurkan.
Agustinus mengaku berada dalam posisi sulit karena harus membagi bantuan kepada 11 desa yang berada di wilayah Lamba Leda Utara.
"21.721 jiwa harus dibagi rata. Saya buat begitu. Saya bagi rata 11 desa, saya stres. Saya tidak kuat lagi, harus urus masyarakat. Saya tidak tahan," ujarnya dalam video tersebut.
Menurut Agustinus, warga dari sejumlah desa terus mempertanyakan distribusi bantuan kepadanya. Kondisi itu membuat dirinya merasa semakin tertekan dalam menjalankan tugas sebagai camat di tengah situasi bencana.
Minta Maaf kepada BNPB
Beberapa hari setelah video tersebut viral, Agustinus kemudian menyampaikan permohonan maaf kepada pihak BNPB, Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur, serta pihak-pihak lain yang terdampak oleh kejadian tersebut.
"Saya menyampaikan permohonan maaf kepada Bapak Deden, BNPB, Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur, dan semua pihak yang terdampak atas kejadian maupun informasi yang berkembang," kata Agustinus, Kamis (27/8/2026).
Ia menjelaskan persoalan tersebut terjadi ketika bantuan yang tersedia baru berada di tingkat kecamatan. Sementara itu, bantuan untuk wilayah Kabupaten Manggarai Timur secara keseluruhan masih dalam proses distribusi.
Agustinus juga menegaskan bahwa klarifikasi dan permintaan maaf tersebut dilakukan atas inisiatif pribadi dan bukan karena adanya tekanan dari pihak tertentu.
BNPB Terima Permintaan Maaf
Inspektur III BNPB Kombes Pol Deden Nurhidayatullah mengatakan pihaknya menerima permintaan maaf Agustinus dengan tulus.
"Permintaan maaf tersebut kami terima dengan tulus dan ikhlas. Bagi kami, yang paling penting sekarang adalah bagaimana kita bersama-sama kembali fokus membantu masyarakat yang sedang menghadapi situasi sulit akibat bencana," ujar Deden.
Deden mengatakan situasi bencana memang dapat memberikan tekanan besar bagi pemerintah, petugas di lapangan, maupun masyarakat. Karena itu, perbedaan persepsi yang muncul di lapangan dinilai perlu diselesaikan melalui komunikasi dan koordinasi.
Menurutnya, distribusi bantuan logistik untuk masyarakat terdampak gempa di Manggarai Timur terus dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kebutuhan serta kondisi akses menuju wilayah terdampak.
Ia menjelaskan, proses distribusi menghadapi sejumlah kendala teknis, terutama akses transportasi menuju beberapa lokasi. Kondisi tersebut membuat bantuan yang tersedia di tingkat kabupaten tidak selalu bisa diterima seluruh kecamatan dalam waktu yang bersamaan.
BNPB pun mengajak seluruh pihak untuk kembali berkoordinasi dan memprioritaskan pemenuhan kebutuhan masyarakat yang terdampak gempa.





