Lambeturah.co.id — Unggahan viral di media sosial kembali menyoroti dampak kontroversial dari tradisi parade sound horeg dalam acara karnaval desa. Sebuah akun mengeluhkan penanganan perangkat desa yang dianggap mengorbankan fasilitas publik dan hak-hak dasar warga demi menyelenggarakan acara hiburan yang hanya berlangsung sehari.
Dalam rekaman yang beredar, tampak perangkat desa bersama rombongan memangkas dahan pohon mangga milik warga secara masif. Pemangkasan tersebut diduga dilakukan karena adanya aturan dadakan yang melarang keberadaan dahan pohon di bawah ketinggian 4 meter demi melancarkan jalan bagi rombongan truk sound horeg. Yang membuat warga berang, buah mangga yang tengah berbuah lebat di pohon tersebut justru diangkut ke dalam truk petugas, tanpa diserahkan kepada pemilik rumah.
Tak berhenti di situ, alih-alih membuat regulasi yang mengontrol pembatasan volume suara demi kenyamanan bersama, pihak penyelenggara justru membagikan lakban kepada warga. Lakban tersebut diminta untuk ditempelkan pada jendela kaca rumah masing-masing agar kaca tidak retak atau pecah akibat dentuman bass berdaya tinggi.
Peristiwa ini memicu reaksi tajam netizen di media sosial. Banyak pengguna memperingatkan publik yang mengimpikan gaya hidup tenang (slow living) di pedesaan untuk berpikir ulang, mengingat masih maraknya penarikan iuran tak masuk akal serta kebijakan bernada kebiijakan lokal yang merugikan warga sekitar.
Hingga saat ini, insiden tersebut terus menuai perdebatan hangat terkait batasan antara pelestarian budaya hiburan lokal dan perlindungan atas hak kenyamanan warga.





