Lambeturah.co.id – Kasus viral yang menyeret seorang ibu penjahit di Bali atas dugaan tindakan rasisme terhadap pelanggannya kini memasuki babak baru. Setelah ramai menjadi perbincangan hangat di media sosial, sang penjahit akhirnya memberikan klarifikasi dengan didampingi oleh anggota DPD RI asal Bali, I Gusti Ngurah Arya Wedakarna (AWK).

Dalam unggahan video di akun media sosial AWK, penjahit bernama Ibu Sintya tersebut membantah sebagian besar tuduhan yang dialamatkan kepadanya. Ia menjelaskan bahwa perselisihan tersebut bermula ketika sang pelanggan datang untuk mengambil pakaian di saat dirinya sedang makan.

Menurut pengakuan Sintya, saat itu ia hanya meminta pelanggan tersebut untuk menunggu sekitar 15 menit agar ia bisa menghabiskan makanannya terlebih dahulu. Namun, permintaan itu justru memicu kemarahan dari pihak pelanggan hingga membuat situasi menjadi tegang.

"Iya, dia marah-marah saat disuruh menunggu 15 menit. Masak kita harus menaruh (meninggalkan) makanan, padahal ongkos servisnya cuma Rp10 ribu sampai Rp20 ribu," ujar Sintya, dikutip pada Sabtu (18/7/2026).

Sintya juga mengungkapkan bahwa insiden tersebut sebenarnya sudah terjadi beberapa waktu yang lalu dan baru belakangan ini menjadi viral di media sosial.

Sebelumnya, perselisihan ini mencuat ke publik setelah sebuah akun bernama @hiddenbyhilda mengaku kecewa dengan pelayanan penjahit tersebut. Pelanggan tersebut menyatakan bahwa tiga potong pakaian yang dijanjikan selesai pada 1 Juli 2026 tak kunjung rampung. Ia mengaku sudah berulang kali datang mengecek dari tanggal 1, 2, hingga 3 Juli, namun pakaian miliknya belum juga selesai dikerjakan.

Tak hanya itu, pelanggan tersebut juga menuding bahwa permintaannya untuk mengembalikan pakaian beserta uangnya ditolak oleh pihak penjahit. Ia mengaku mendapat perlakuan kasar serta ucapan yang bernada rasis, dan mengklaim memiliki bukti rekaman video atas kejadian tersebut. Curhatan itu pun langsung memicu reaksi luas dari warganet hingga menjadi viral di berbagai platform media sosial.

Dengan munculnya klarifikasi dari pihak penjahit, publik kini disuguhkan dua versi cerita yang berbeda dari peristiwa yang sama. Hingga saat ini, belum ada informasi lebih lanjut mengenai upaya mediasi untuk mempertemukan kedua belah pihak maupun hasil akhir dari penyelesaian perselisihan tersebut.