Lambeturah.co.id – Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Kacabdin) Wilayah Aceh Timur, Rahmatsah Putra, menegaskan bahwa penebangan sejumlah pohon besar di lingkungan SMA Negeri 1 Simpang Ulim merupakan bagian dari instruksi Cabang Dinas Pendidikan (Cabdisdik) Aceh Timur. Namun, kebijakan tersebut memicu protes siswa hingga berujung pada pergantian sementara kepala sekolah.

Rahmatsah menyampaikan penjelasan tersebut setelah aksi demonstrasi dan mogok belajar yang dilakukan siswa SMAN 1 Simpang Ulim, Kabupaten Aceh Timur, pada Jumat (23/10/2026) Para siswa memprotes penebangan pohon yang selama bertahun-tahun memberikan keteduhan di lingkungan sekolah.

“Kepsek tidak koordinasi dengan sekolah dan tidak memberi tahu (ke Cabdin) bahwa warga sekolah menolak (penebangan),” kata Rahmatsah.

Rahmatsah menjelaskan, pihaknya menginstruksikan penebangan pohon berusia sekitar 10 hingga 15 tahun karena mempertimbangkan kondisi bangunan dan lingkungan sekolah.

Menurutnya, pertumbuhan akar pohon berpotensi merusak fondasi bangunan dan memecahkan lantai ruang kelas. Sementara itu, dahan yang melebar berisiko mengganggu atap bangunan.

Ia juga menilai pepohonan yang terlalu rimbun dapat menghalangi sinar matahari masuk ke ruang kelas. Selain itu, akar pohon yang tumbuh di sekitar parit dikhawatirkan menghambat aliran air dan memicu genangan saat hujan.

Atas pertimbangan tersebut, Cabdisdik Aceh Timur memandang penebangan sebagai salah satu langkah untuk menjaga kondisi infrastruktur sekolah.

Meski demikian, kebijakan itu mendapat penolakan dari para siswa yang menilai keberadaan pohon sangat penting untuk menjaga keteduhan dan kenyamanan lingkungan belajar.

Polemik itu kemudian berujung pada pergantian sementara Kepala SMAN 1 Simpang Ulim, Laina Fariyani.

Rahmatsah menyampaikan bahwa Cabdisdik Aceh Timur menyiapkan Pelaksana Harian (Plh) kepala sekolah untuk memastikan kegiatan belajar mengajar tetap berjalan.

Berdasarkan pemberitaan The Aceh Post pada 25 Oktober 2026, Rahmatsah menunjuk Henny Mahera Siregar sebagai Plh Kepala SMAN 1 Simpang Ulim untuk menggantikan Laina sementara waktu.

Penunjukan tersebut bertujuan meredakan ketegangan di lingkungan sekolah sekaligus membuka ruang evaluasi terhadap persoalan yang berkembang.

Rahmatsah menegaskan bahwa pihaknya ingin mengutamakan kepentingan siswa dan memulihkan suasana belajar agar kembali kondusif.

“Fokus utama kami saat ini adalah menyelamatkan hak belajar para siswa. Kami ingin memastikan atmosfer belajar kembali kondusif,” ujarnya, sebagaimana dikutip Kanal Aceh.

Di tengah polemik penebangan pohon, Cabdisdik Aceh Timur juga merencanakan penghijauan kembali di lingkungan sekolah dengan menanam tanaman produktif, seperti mangga dan rambutan.

Namun, persoalan ini juga menyoroti pentingnya komunikasi dan pelibatan warga sekolah dalam mengambil kebijakan yang berdampak langsung terhadap lingkungan pendidikan.

Pihak sekolah dan Cabdisdik perlu menyampaikan alasan teknis secara terbuka agar siswa memahami pertimbangan di balik penebangan pohon. Di sisi lain, aspirasi siswa juga perlu mendapat perhatian agar proses pengambilan keputusan tidak menimbulkan kesalahpahaman.

Pergantian sementara kepala sekolah diharapkan dapat menjadi momentum untuk memperbaiki komunikasi antara pihak pengelola sekolah, guru, dan siswa.

Cabdisdik Aceh Timur menekankan pentingnya menjaga ketenangan serta memastikan seluruh siswa tetap memperoleh hak belajar mereka.

Penyelesaian polemik tersebut membutuhkan dialog terbuka agar semua pihak dapat menyampaikan pandangan dan mencari solusi bersama.

Dengan komunikasi yang baik dan evaluasi yang transparan, SMAN 1 Simpang Ulim diharapkan dapat kembali menjalankan kegiatan pendidikan secara kondusif tanpa mengabaikan aspirasi siswa maupun kebutuhan menjaga lingkungan sekolah.