Lambeturah.co.id - Ruben Onsu akhirnya angkat bicara setelah Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) menyoroti polemik perpisahannya dengan Sarwendah. Presenter tersebut meluapkan kekecewaannya dan mempertanyakan langkah lembaga itu yang ikut menyoroti persoalan keluarganya.
Pernyataan Ruben muncul setelah Ketua Komnas PA, Agustinus Sirait, menggelar konferensi pers pada Rabu (21/10/2026). Dalam kesempatan tersebut, Komnas PA menyoroti perselisihan Ruben dan Sarwendah yang dikhawatirkan berdampak terhadap kondisi psikologis serta tumbuh kembang anak-anak mereka.
Sebelumnya, Sarwendah diketahui telah mengajukan aduan resmi kepada Komnas PA terkait persoalan hak asuh anak. Aduan tersebut bertujuan meminta perhatian terhadap kondisi psikologis dan kepentingan terbaik bagi anak-anak mereka.
Menanggapi hal itu, Agustinus mengimbau kedua pihak agar menghentikan perseteruan dan aksi saling menyerang di ruang publik maupun media sosial.
Namun, Ruben tampaknya keberatan dengan pernyataan Komnas PA. Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, ia menyindir lembaga tersebut karena dinilai terlalu jauh mencampuri persoalan yang menurutnya sudah ditangani lembaga resmi negara.
"Nah muncul lg nih org @komnasanak, nafsu bgt ngurusin urusan yg sudah di pegang lembaga resmi negara, urusan negara lg penting dgn kebakaran hutan yg masih banyak korban nya terutama anak2 bro," tulis Ruben, Kamis (22/10/2026).
Ruben kemudian meminta Komnas PA agar lebih memperhatikan persoalan sosial lain yang membutuhkan penanganan segera. Ia juga menegaskan bahwa pernyataannya bukan sekadar bentuk saling serang, melainkan upaya meluruskan informasi yang dianggap merendahkan martabatnya sebagai seorang ayah.
"Ayo bantu suarakan bro, saya jg kecam anda trs membahas urusan yg sedang berlangsung di pengadilan, jd bukan saut2 an tp meluruskan informasi yg merendahkan harga diri seorang ayah," lanjutnya.
Tak hanya itu, Ruben turut mempertanyakan siapa yang meminta perlindungan kepada Komnas PA. Ia menegaskan bahwa dalam menghadapi persoalan hidup, dirinya memilih untuk bersandar kepada Tuhan.
"Hayo siapa yg dtg ke kalian untuk minta perlindungan? Kalau saya meminta ke Allah bukan ke kalian," tulis Ruben.
Ia juga menyampaikan keberatan terhadap langkah Komnas PA yang dinilainya terus mengangkat persoalan keluarga yang sedang dalam penanganan lembaga resmi.
"Pelajari dulu baru bersuara biar meilhat lebih berisi ketika berbicara, jd lewat upload an ini saya menyatakan keberatan jika kalian trs memanfaatkan permasalahan yg sedang dalam penaganan lembaga resmi negara," tegasnya.
Di akhir unggahannya, Ruben kembali mengingatkan Komnas PA agar memprioritaskan anak-anak lain yang membutuhkan bantuan dan perhatian. Ia mengaku lelah dengan persoalan yang terus berlarut-larut.
"Ayo banyak sekali urusan anak2 yg lebih membutuhkan bantuan dan perhatian kalian, setalah itu prescon deh, itu baru keren, Saya aja udh capek muter2 tak kunjung usai, ini ente malah baru mulai hadeuhhh," pungkas Ruben.
Komnas PA Kecam Perseteruan Ruben dan Sarwendah
Sebelumnya, Ketua Komnas PA Agustinus Sirait menyampaikan teguran keras terhadap Ruben Onsu dan Sarwendah. Ia menilai kedua pihak seharusnya tidak terus mempertontonkan perselisihan di hadapan publik karena dapat memberikan contoh buruk bagi anak-anak.
"Kami mengecam keras kedua belah pihak, apakah Ibu SW atau Bapak RO, yang sudah terus-menerus saling menyerang di ruang publik dan tidak patut dicontoh," ujar Agustinus dalam konferensi pers, Rabu (21/10/2026).
Agustinus menegaskan, kepentingan terbaik bagi anak harus menjadi prioritas di tengah konflik orang tua. Menurutnya, negara memiliki kewenangan untuk mengambil langkah perlindungan apabila perselisihan terbukti membahayakan kesehatan mental, fisik, maupun tumbuh kembang anak.
"Apabila perselisihan kedua orang dewasa terbukti membahayakan kesehatan mental, fisik, maupun tumbuh kembang anak secara serius, negara memiliki kewenangan hukum penuh untuk mengambil langkah perlindungan," tegasnya.
Agustinus juga menyinggung putusan di Padang yang mencabut hak asuh anak dari orang tuanya tanpa menghapus kewajiban finansial mereka. Ia menyebut langkah serupa dapat menjadi pertimbangan apabila perselisihan Ruben dan Sarwendah terus berlanjut dan berdampak buruk terhadap anak.
"Kemarin di Padang sudah ada vonis untuk orang tua dicabut hak asuh anaknya, tanpa menghilangkan kewajiban sebagai orang tua," imbuh Agustinus.
Ia menilai perseteruan yang terus berlangsung di ruang publik berpotensi menjadi contoh buruk bagi anak. Karena itu, Komnas PA mempertimbangkan berbagai langkah perlindungan apabila konflik tersebut terbukti mengganggu kondisi psikologis anak.
"Memungkinkan bisa (hak asuh dicabut), kalau negara nanti melihat bahwa sering terjadi berulang kekerasan psikis untuk anak," pungkasnya.
Polemik ini kembali menyoroti pentingnya menjaga kepentingan dan kondisi psikologis anak di tengah konflik orang tua. Meski demikian, penilaian mengenai dampak terhadap anak serta langkah hukum yang diperlukan perlu didasarkan pada hasil pemeriksaan dan ketentuan yang berlaku.





