Lambeturah.co.id - Dua remaja penyandang tunanetra meninggalkan tempat pendidikan mereka di Yogyakarta dan akhirnya tiba di Mojokerto, Jawa Timur. Keduanya mengaku memilih pergi karena merasa tidak nyaman dan diduga mengalami perundungan atau bullying.

Kedua remaja tersebut yakni SBA (16), asal Kabupaten Wonogiri, dan OS (14), asal Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Sebelumnya, mereka tinggal dan menempuh pendidikan di lingkungan Yayasan Kesejahteraan Tuna Netra Islam (Yaketunis), Jalan Parangtritis, Mantrijeron, Kota Yogyakarta.

Keputusan keduanya meninggalkan pondok disebut berkaitan dengan perlakuan yang mereka rasakan sebagai bentuk perundungan. Mereka juga mengaku kerap mendapat tudingan terkait kedekatan dalam berteman.

SBA mengatakan dirinya dan OS sering beraktivitas bersama karena saling membantu sebagai sesama penyandang tunanetra. Kondisi penglihatan mereka membuat keduanya membutuhkan pendampingan ketika melakukan sejumlah aktivitas, seperti membeli makanan atau bepergian.

“Kalau saya beli jajan berdua, sering dituduh yang enggak-enggak. Padahal cuma nemenin. Saya kan enggak bisa lihat, dia masih ada sisa penglihatan,” ujar SBA.

Mengaku Sering Dibully

OS mengaku mengalami tekanan selama berada di lingkungan pendidikan. Ia menyebut pernah mendapat ucapan yang membuat dirinya minder dan tidak nyaman untuk kembali ke sekolah maupun pondok.

“Di SMA saya sering dibully. Saya juga sering dikatai, ngapain sekolah kalau enggak bisa lihat. Saya sebenarnya ingin berubah, tetapi tetap saja dituduh macam-macam,” ungkap OS.

Menurut SBA, kedekatan mereka semata-mata dilakukan untuk saling membantu. Namun, kebersamaan tersebut justru memunculkan berbagai tudingan dari orang-orang di sekitar mereka.

OS juga mengaku masih menghadapi stigma akibat persoalan yang pernah dialaminya di masa lalu. Ia mengatakan telah berusaha memperbaiki diri, tetapi merasa masih mendapatkan penilaian buruk dari lingkungan.

“Saya enggak suka kalau mereka menjauhkan saya. Saya sering dibully. Emang saya salah kalau saya mau berubah, tapi tetap saya dituduh,” katanya.

Pergi dari Yogyakarta hingga Mojokerto

Setelah memutuskan meninggalkan Yogyakarta, SBA dan OS menggunakan bus Trans Jogja menuju Terminal Giwangan. Dari sana, mereka melanjutkan perjalanan hingga tiba di Mojokerto sekitar pukul 04.05 WIB pada Rabu (26/8/2026).

Keduanya sebenarnya berencana melanjutkan perjalanan ke Lampung. Namun, rencana tersebut batal karena mereka harus terlebih dahulu memesan tiket. Mereka akhirnya memilih Mojokerto sebagai tempat tujuan sementara.

Selama berada di Yogyakarta, keduanya mengikuti sistem pendidikan yang berbeda. OS tinggal di lingkungan pondok sekaligus bersekolah di madrasah yang berada dalam satu kompleks. Sementara SBA bersekolah di SMA negeri reguler yang lokasinya berbeda dari pondok.

Saat pergi, keduanya tidak membawa seluruh barang milik mereka. Mereka hanya membawa sejumlah barang yang dianggap penting dan meninggalkan barang lainnya.

Setibanya di Mojokerto, keduanya belum memiliki tujuan tempat tinggal yang pasti. Mereka berharap dapat menemukan tempat yang aman, baik pondok maupun panti sosial yang bisa menerima sekaligus memberikan pendampingan.

“Saya enggak tahu nanti mau di pondok atau di panti yang menerima saya. Pokoknya saya sama OS,” ujar SBA.

Kondisi kedua remaja tersebut menjadi perhatian karena mereka masih berstatus pelajar sekaligus penyandang disabilitas netra. Mereka membutuhkan tempat tinggal yang aman, pendampingan, serta perlindungan yang memadai.

Penanganan terhadap keduanya juga perlu melibatkan keluarga, pihak pendidikan, dan instansi terkait. Koordinasi diperlukan agar keberadaan mereka di Mojokerto dapat ditangani dengan baik dan kepentingan terbaik bagi kedua remaja tetap menjadi prioritas.

Pendampingan juga penting untuk memastikan keduanya tetap memperoleh akses pendidikan sekaligus mendapatkan lingkungan yang aman, inklusif, dan bebas dari perundungan.