Lambeturah.co.id - Sepak bola Indonesia kembali diwarnai aksi kekerasan antarsuporter. Menyikapi dua insiden penyerangan yang terjadi dalam perjalanan rombongan suporter dan tim sepak bola, Ketua Umum PSSI Erick Thohir mengancam akan menjatuhkan sanksi tegas kepada klub yang dinilai gagal menjaga ketertiban suporternya.

Erick bahkan membuka peluang penerapan sanksi pengurangan poin bagi klub yang tidak mampu mengendalikan perilaku suporternya. Ia memberikan waktu satu minggu kepada operator kompetisi I.League dan klub-klub untuk menyepakati langkah konkret guna mencegah terulangnya insiden serupa.

Ancaman tersebut muncul setelah dua peristiwa penyerangan menjadi sorotan publik dalam beberapa hari terakhir.

Insiden pertama melibatkan oknum suporter The Jakmania yang menyerang rombongan bus tim Elite Pro Academy (EPA) Persib U-18 di Rest Area KM 360 Tol Batang, Jawa Tengah.

Tak berselang lama, rombongan Jakmania Cikampek juga dilaporkan menjadi korban penyerangan di Tol Palikanci KM 200 pada Senin (12/10/2026) dini hari WIB. Rombongan tersebut tengah dalam perjalanan pulang setelah mendukung Persija Jakarta bertanding melawan PSIM Yogyakarta.

Erick Thohir Beri Waktu Satu Minggu kepada Klub dan Operator Liga

Erick menegaskan bahwa upaya pencegahan kekerasan suporter harus menjadi tanggung jawab bersama antara klub dan operator kompetisi. Ia meminta kedua pihak segera menyepakati aturan serta mekanisme penanganan yang efektif.

Menurut Erick, PSSI masih memberikan kesempatan kepada I.League dan klub-klub untuk merumuskan kesepakatan dalam waktu satu minggu sebelum mengambil langkah lebih jauh.

"Ya, saya akan kasih kesempatan liga, klub untuk bersepakat satu minggu ini," kata Erick Thohir di kantor Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), Selasa (13/10/2026).

Erick, yang juga menjabat sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga, menekankan bahwa keselamatan suporter dan seluruh pihak yang terlibat dalam pertandingan harus menjadi prioritas.

Klub Terancam Pengurangan Poin Jika Gagal Mengendalikan Suporter

Salah satu langkah tegas yang dipertimbangkan Erick adalah memberikan sanksi pengurangan poin kepada klub yang dinilai tidak mampu menjaga perilaku suporternya.

Ia menilai klub tidak bisa melepaskan tanggung jawab ketika terjadi aksi kekerasan yang melibatkan kelompok pendukung mereka. Karena itu, diperlukan konsekuensi yang dapat mendorong klub lebih serius membangun budaya suporter yang aman dan tertib.

"Dan saya akan mendorong klub-klub yang tidak bisa menjaga suporternya, pengurangan poin sekarang. Tapi saya kasih kesepakatan dulu, ya, cuma kita akan lakukan tindak tegas pastinya," ujar Erick.

Pernyataan tersebut menjadi peringatan bagi klub-klub peserta kompetisi sepak bola nasional agar tidak menganggap persoalan kekerasan suporter sebagai masalah yang bisa diabaikan.

Meski demikian, penerapan sanksi pengurangan poin masih berupa ancaman yang disampaikan Erick. Langkah tersebut akan bergantung pada kesepakatan dan tindak lanjut yang dilakukan operator liga bersama klub-klub.

PSSI Buka Peluang Kembali Melarang Suporter Tandang

Selain pengurangan poin, Erick juga mengisyaratkan kemungkinan diberlakukannya kembali larangan kehadiran suporter tim tamu di stadion.

Kebijakan tersebut dapat menjadi opsi apabila I.League dan klub-klub tidak mampu mencapai kesepakatan yang memadai untuk mencegah kekerasan antarsuporter.

Erick menegaskan PSSI tidak akan tinggal diam jika upaya bersama untuk menjaga keamanan pertandingan tidak menghasilkan komitmen yang jelas.

"Kalau tidak ada kesepakatan, ya kami PSSI akan intervensi, ya jangan-jangan tidak ada lagi, ya suporter away lagi," kata Erick.

PSSI kini menunggu komitmen operator kompetisi dan klub dalam merumuskan langkah pencegahan. Dalam waktu satu minggu, mereka diharapkan dapat menghasilkan kesepakatan yang mampu meningkatkan keamanan perjalanan suporter maupun penyelenggaraan pertandingan.

Ancaman pengurangan poin hingga kemungkinan larangan suporter tandang kembali menjadi sinyal bahwa PSSI ingin mengambil langkah lebih tegas terhadap kekerasan di sepak bola Indonesia.