Lambeturah.co.id - Industri e-commerce Indonesia memasuki babak baru. Setelah bertahun-tahun mengandalkan strategi "bakar uang" melalui diskon dan promosi besar-besaran untuk mengejar pertumbuhan pengguna, kini pelaku industri mulai mengutamakan profitabilitas, efisiensi, dan keberlanjutan bisnis.

Ketua Umum Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA), Budi Primawan, mengatakan perubahan tersebut dipicu oleh beragam faktor, mulai dari perubahan pola pendanaan, tuntutan investor terhadap keuntungan, efisiensi operasional, pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), hingga dinamika regulasi.

Menurutnya, efisiensi tidak selalu berarti pemutusan hubungan kerja (PHK). Langkah tersebut juga mencakup penyederhanaan proses bisnis, optimalisasi teknologi, serta pengalokasian sumber daya ke sektor yang lebih produktif. Di sisi lain, perusahaan tetap berinvestasi pada pengembangan talenta, teknologi, logistik, keamanan, dan layanan pelanggan.

Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, menilai strategi bakar uang memang lazim digunakan pada fase awal untuk memperbesar basis pengguna. Namun, ketika jumlah pengguna mulai stabil, investor lebih menuntut perusahaan menunjukkan jalan menuju profit sehingga efisiensi menjadi pilihan utama.

Di tengah perubahan strategi tersebut, isu PHK sempat mencuat setelah beredar kabar bahwa ByteDance melakukan restrukturisasi di Tokopedia usai peluncuran Tokopedia Lite. Kabar itu menyebut sejumlah divisi terdampak dan sebagian besar karyawan Tokopedia akan dikurangi.

Namun, Executive Director Tokopedia and TikTok E-commerce Indonesia, Stephanie Susilo, menegaskan tidak ada PHK massal. Menurutnya, perusahaan hanya melakukan penataan organisasi melalui mobilitas internal dan program kompensasi sukarela. Saat ini, TikTok dan Tokopedia juga masih membuka lebih dari 100 lowongan pekerjaan di Indonesia.

Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad menyebut sekitar 200 karyawan memilih mengambil paket kompensasi, sementara sebagian lainnya dipindahkan ke lini bisnis lain dalam grup TikTok. Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menilai kebijakan tersebut menjadi solusi yang memberikan kepastian bagi pekerja.

Sementara itu, persaingan e-commerce nasional masih didominasi dua pemain besar. Berdasarkan laporan E-Commerce in Southeast Asia 2026 dari Momentum Works, Shopee memimpin pasar Indonesia dengan pangsa 54% pada 2025, disusul gabungan TikTok Shop dan Tokopedia sebesar 38%. Keduanya menguasai sekitar 92% total nilai transaksi e-commerce nasional yang mencapai US$57,7 miliar atau sekitar Rp999 triliun pada 2025.