Lambeturah.co.id — Jagat media sosial kembali dihebohkan oleh aksi antimainstream seorang pekerja muda yang diduga merupakan representasi dari kaum Gen Z. Alih-alih menyusun surat pengunduran diri formal berlembar-lembar dengan kalimat diplomatis, pekerja bernama Abdul Adit Rohman ini justru mengirimkan surat resign yang sangat santai, jujur, sekaligus menohok manajemen tempatnya bekerja.
Surat yang diunggah dimedsos ini langsung viral dan menjadi bahan perbincangan hangat warganet. Bagaimana tidak? Format surat tersebut memang tampak biasa dengan kop bertuliskan "SURAT PENGUNDURAN DIRI" dan ditujukan kepada pihak HRD, namun isi di dalamnya sungguh di luar prediksi BMKG!
Isi Surat yang Blunder Tapi Jujur
Tanpa ada ucapan terima kasih yang klise atau permohonan maaf yang bertele-tele, Adit langsung menembak pada poin inti mengapa dirinya memutuskan hengkang dari perusahaan tersebut:
SURAT PENGUNDURAN DIRI
Melalui surat ini, saya Adit Mengajukan permohonan pengunduran diri dari gawean ini
alasanya... banyak dah. saya ngundurin diri salah satunya saya dah dapat kerjaan baru, yang lebih danta.
lemburan di apresiasi kalo disini kan nggak (minimal mah makan ge atuh ini ora dapet) ama gaji nyaa lebih gede dikit dah
Demikian surat pengunduran diri saya, sehat - sehat dah yak pada
Dalam dialek khas Bekasi, kata "danta" sendiri memiliki arti jelas atau beres. Dengan kata lain, Adit merasa tempat kerjanya yang baru jauh lebih jelas arahnya, menghargai uang lembur (yang bahkan di tempat lamanya sekadar jatah makan lembur pun tidak keluar), serta menawarkan gaji yang sedikit lebih tinggi.
Reaksi Warganet: Campuran Geli, Relate, dan Kagum
Kolom komentar langsung dibanjiri reaksi beragam dari warganet. Banyak yang merasa terhibur sekaligus kagum dengan keberanian Adit.
"Di balik bahasanya yang ceplas-ceplos, ini sebetulnya tamparan keras buat perusahaan yang suka nge-eksploitasi karyawan tapi pelit apresiasi," tulis salah satu warganet.
Ada juga yang berkomentar bahwa surat ini mewakili jeritan hati jutaan pekerja yang selama ini terpaksa bertahan dalam kondisi burnout dan berpura-pura baik-baik saja hanya demi menjaga reputasi profesional atau takut tidak mendapatkan surat referensi kerja.
Sudut Pandang Kritis: Etika vs Hak Pekerja
Fenomena surat resign "gaya Bekasi" ini tentu memicu diskusi yang lebih dalam mengenai pergeseran budaya kerja saat ini:
1. Penurunan Etika atau Keberanian Menyuarakan Kebenaran? Apakah cara Gen Z ini dianggap tidak sopan, atau justru menjadi sinyal bahwa generasi muda saat ini lebih berani dan transparan dalam menyuarakan hak-hak mereka?
2. Red Flag Perusahaan yang Selama Ini Diabaikan: Berapa banyak pekerja di luar sana yang sebenarnya ingin menulis surat serupa namun terpaksa menahan diri? Masalah uang makan saat lembur dan apresiasi yang minim seringkali dianggap sepele oleh HRD, padahal merupakan isu mendasar bagi kesejahteraan mental dan finansial karyawan.
3. Definisi Baru "Loyalitas": Bagi generasi muda, loyalitas adalah jalan dua arah (two-way street). Jika perusahaan tidak dapat memberikan kejelasan (ora danta), maka pekerja tidak memiliki alasan moral untuk bertahan di tempat kerja yang toksik.





