Lambeturah.co.id – Gelombang demonstrasi kembali melanda sejumlah negara Eropa pada akhir pekan, Sabtu hingga Minggu (24–25 Oktober 2026). Aksi unjuk rasa berlangsung di Prancis, Italia, dan Portugal dengan membawa berbagai tuntutan, mulai dari kenaikan biaya hidup hingga sulitnya mendapatkan tempat tinggal yang terjangkau.

Aksi tersebut diwarnai bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan di sejumlah lokasi. Pemerintah setempat pun memperketat pengamanan guna mencegah kerusuhan serta kerusakan fasilitas umum.

Prancis menjadi salah satu pusat demonstrasi terbesar di Eropa. Sekitar 410 ribu orang dilaporkan mengikuti aksi unjuk rasa di berbagai wilayah pada Sabtu (24/10). Sementara itu, Konfederasi Umum Buruh Prancis memperkirakan jumlah peserta mencapai hampir 800 ribu orang.

Di Paris, sekitar 110 ribu orang diperkirakan turun ke jalan untuk menyuarakan tuntutan mereka. Namun, aksi di sejumlah titik berujung ricuh ketika kelompok demonstran terlibat bentrokan dengan aparat kepolisian.

Menteri Dalam Negeri Prancis, Laurent Nunez, menyampaikan bahwa polisi telah melakukan penangkapan terhadap sejumlah demonstran. Dalam rangkaian aksi tersebut, hampir 1.000 orang dilaporkan ditangkap, sementara beberapa orang mengalami luka serius.

Pemerintah Prancis sebelumnya mengerahkan sekitar 70 ribu personel keamanan untuk mengantisipasi kerusuhan. Demonstrasi yang awalnya dipicu persoalan kondisi pendidikan kemudian berkembang menjadi protes yang lebih luas terhadap meningkatnya biaya hidup dan menurunnya kualitas pelayanan publik.

Perwakilan pelajar sekolah menengah, Nathanael Combary, menyatakan kekecewaannya terhadap hasil pembicaraan dengan Presiden Emmanuel Macron. Ia menegaskan bahwa para pelajar akan terus menyuarakan tuntutan mereka hingga pemerintah memberikan solusi yang konkret.

Aksi unjuk rasa juga berlangsung di sejumlah kota besar Italia pada Sabtu (24/10). Demonstrasi tersebut membawa tuntutan penolakan terhadap perang serta protes atas meningkatnya biaya hidup.

Kericuhan dilaporkan terjadi di Turin, Roma, dan Bologna. Sementara itu, demonstrasi di Milan sebagian besar berlangsung damai.

Untuk mengantisipasi kemungkinan kerusakan, pemerintah mengerahkan personel kepolisian dalam jumlah besar. Sejumlah toko juga memilih menutup operasionalnya selama aksi berlangsung.