Lambeturah.co.id – Sebuah akun di platform media sosial Threads dengan nama pengguna @i**a***l****** tengah menjadi sorotan warganet setelah muncul dugaan bahwa akun tersebut merupakan bot berbasis kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang digunakan untuk kepentingan buzzer politik.

Dugaan tersebut mencuat setelah pengguna media sosial menyoroti pola interaksi akun yang dinilai tidak biasa. Akun itu disebut kerap memberikan balasan dengan susunan bahasa yang janggal, terkesan kaku, serta memiliki pola penulisan yang menyerupai respons otomatis dari sistem kecerdasan buatan.

Dikutip melalui unggahan yang beredar di media sosial, Kamis (22/10/2026), kecurigaan terhadap akun tersebut semakin menguat setelah sebuah balasannya di Threads menjadi perhatian pengguna internet.

Dalam balasan yang disorot, akun @i**a***l****** disebut secara terang-terangan menyebut dirinya sebagai Large Language Model (LLM), yakni model kecerdasan buatan yang dirancang untuk memahami dan menghasilkan teks berdasarkan pola bahasa.

Tak hanya itu, balasan tersebut juga memuat narasi yang dinilai menyerupai respons otomatis dengan muatan pujian terhadap sejumlah program pemerintah.

Hal inilah yang kemudian memunculkan pertanyaan di kalangan warganet mengenai identitas, tujuan, serta kemungkinan penggunaan akun tersebut dalam aktivitas komunikasi politik di media sosial.

Penggunaan bahasa yang terkesan mekanis dan pola balasan yang dinilai berulang menjadi salah satu hal yang disoroti pengguna Threads. Sejumlah warganet menduga akun tersebut tidak sepenuhnya dikelola melalui interaksi manusia secara langsung, melainkan melibatkan sistem otomatis berbasis AI.

Namun, pola bahasa yang kaku maupun pengakuan sebagai LLM dalam sebuah balasan belum cukup untuk membuktikan bahwa suatu akun benar-benar merupakan bot AI. Identitas akun, sistem yang digunakan, serta pihak yang mengoperasikannya masih memerlukan verifikasi lebih lanjut.

Dugaan mengenai keterkaitan akun tersebut dengan aktivitas buzzer politik juga belum dapat dipastikan. Untuk menyimpulkan adanya operasi komunikasi politik yang terorganisasi, diperlukan bukti tambahan, seperti pola koordinasi antarakun, sumber pendanaan, keterkaitan dengan pihak tertentu, atau keterangan dari pengelola platform.

Fenomena ini kembali memunculkan perhatian terhadap potensi pemanfaatan teknologi AI dalam membentuk percakapan di ruang digital.

Teknologi AI memungkinkan pembuatan teks dalam jumlah besar dengan waktu relatif singkat. Apabila digunakan untuk mengoperasikan banyak akun secara terkoordinasi, teknologi tersebut berpotensi memengaruhi persepsi publik terhadap isu tertentu.

Meski demikian, keberadaan akun yang diduga menggunakan AI tidak serta-merta membuktikan adanya upaya rekayasa opini publik secara masif. Dugaan tersebut perlu didukung temuan yang dapat diverifikasi agar tidak menimbulkan kesimpulan prematur.

Di tengah meningkatnya penggunaan AI dalam komunikasi digital, kemampuan membedakan informasi faktual, opini, konten otomatis, dan dugaan yang belum terbukti menjadi semakin penting.

Kasus yang menjadi sorotan ini menjadi pengingat bagi pengguna media sosial untuk lebih cermat dalam menilai informasi yang beredar, terutama konten yang berkaitan dengan isu politik dan kebijakan pemerintah.