Lambeturah.co.id - Video perselisihan antara keluarga pasien dan petugas keamanan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD dr La Palaloi, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, viral di media sosial. Insiden tersebut memicu sorotan setelah keluarga pasien memprotes penjelasan petugas yang menyebut kapasitas IGD penuh, meski terlihat sejumlah tempat tidur kosong dalam rekaman.
Video berdurasi 2 menit 11 detik itu memperlihatkan keluarga pasien terlibat adu argumen dengan petugas keamanan di ruang IGD. Keluarga mempertanyakan alasan rumah sakit menyatakan ruang perawatan darurat penuh ketika mereka membutuhkan pelayanan medis untuk orang tuanya.
Peristiwa tersebut mendapat perhatian Bupati Maros Chaidir Syam. Ia meminta Direktur RSUD dr La Palaloi memanggil pihak-pihak terkait untuk mengklarifikasi kejadian tersebut.
Chaidir menegaskan, sanksi tegas dapat dijatuhkan jika pemeriksaan membuktikan adanya pelanggaran dalam pelayanan, termasuk tindakan menolak pasien.
“Kalau memang dia menolak pasien, itu bisa dihentikan, diberhentikan orang yang memang menolak tersebut,” kata Chaidir Syam, Selasa (27/10/2026).
RSUD Maros Bantah Menolak Pasien
Direktur RSUD dr La Palaloi, Sri Syamsinar, membantah pihak rumah sakit menolak pasien tersebut. Ia menjelaskan, kapasitas IGD sedang penuh saat pasien datang.
Menurut Sri, satu tempat tidur yang tampak kosong dalam video disiapkan untuk tindakan kegawatdaruratan. Sementara itu, empat tempat tidur lainnya diperuntukkan bagi pasien anak.
Sri juga menyatakan pasien telah diperiksa oleh dokter jaga. Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, kondisi pasien dinilai tidak masuk kategori gawat darurat sehingga keluarga diarahkan menuju puskesmas terdekat sesuai alamat tempat tinggal.
“Bukan penolakan. Memang situasi pada saat itu IGD sementara full,” ujar Sri Syamsinar.
Kapasitas 38 Tempat Tidur Diklaim Selalu Penuh
Sri menyebut IGD RSUD dr La Palaloi memiliki kapasitas 38 tempat tidur. Dalam dua bulan terakhir, tempat tidur tersebut diklaim selalu terisi karena tingginya jumlah kunjungan pasien.
Kondisi itu membuat sejumlah pasien, termasuk pasien rujukan dari puskesmas, terkadang harus menunggu sekitar satu hingga dua jam untuk mendapatkan tempat tidur.
Terkait video yang beredar, Sri menilai rekaman tersebut tidak memperlihatkan keseluruhan kronologi kejadian. Ia mengklaim keluarga pasien telah menerima penjelasan dari dokter serta arahan untuk mencari fasilitas kesehatan lain.
Namun, pihak rumah sakit mengaku tidak mengetahui secara pasti keberadaan maupun kondisi pasien setelah keluarga meninggalkan IGD.
Kasus ini menjadi perhatian setelah muncul perbedaan pandangan antara keluarga pasien dan pihak rumah sakit mengenai kondisi pelayanan IGD saat kejadian. Klarifikasi lebih lanjut diperlukan untuk memastikan kronologi serta menilai apakah prosedur pelayanan pasien telah dijalankan sesuai ketentuan.





