Lambeturah.co.id - Pemerintah Indonesia menyepakati impor sebanyak 580.000 ekor Grand Parent Stock (GPS) atau induk ayam dari Amerika Serikat (AS) sebagai bagian dari kerja sama perdagangan yang tertuang dalam dokumen Agreement on Reciprocal Trade (ART).
Dalam dokumen tersebut, nilai impor diperkirakan mencapai USD 17 juta hingga USD 20 juta atau setara Rp286 miliar hingga Rp336,48 miliar. Dengan asumsi kurs Rp16.824 per dolar AS, harga rata-rata GPS yang diimpor berada di kisaran Rp493 ribu per ekor atau hampir Rp500 ribu per ekor.
Ketua Umum Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN), Pardjuni, menilai harga tersebut jauh lebih murah dibandingkan harga normal GPS di pasar internasional saat ini.
Menurutnya, harga induk ayam GPS umumnya berada di kisaran USD 60 hingga USD 70 per ekor atau sekitar Rp1 juta hingga Rp1,17 juta. Dengan demikian, harga impor yang tercantum dalam kesepakatan tersebut menunjukkan penurunan lebih dari 50 persen dari harga pasar.
"Kami melihat harga GPS dalam perjanjian itu sangat murah. Harga normal saat ini sekitar USD 60 sampai USD 70 per ekor. Sulit dibayangkan jika harganya bisa turun hingga 50 persen," ujar Pardjuni.
Meski harga yang lebih rendah dapat menguntungkan dari sisi biaya produksi, Pardjuni mengingatkan adanya potensi impor berlebihan yang dapat memicu kelebihan pasokan atau oversupply di sektor perunggasan nasional.
Ia menjelaskan bahwa Indonesia selama ini memang masih mengandalkan impor GPS untuk memenuhi kebutuhan industri ayam. Namun, kuota impor yang terlalu besar dapat berdampak pada keseimbangan pasar beberapa tahun ke depan.
Berdasarkan informasi yang diterimanya, kuota impor GPS untuk tahun 2026 ditetapkan sebanyak 800.000 ekor, meningkat dibandingkan realisasi impor tahun 2025 yang mencapai 578.000 ekor.
Pardjuni menjelaskan, dampak dari impor GPS biasanya baru terasa sekitar dua tahun kemudian. Satu ekor GPS berpotensi menghasilkan sekitar 150 ekor Day Old Chick Final Stock (DOC FS) per minggu pada masa produksi.
Dengan impor 578.000 ekor GPS pada 2025, Indonesia diperkirakan mampu memproduksi lebih dari 80 juta DOC FS per minggu pada 2027. Sementara kebutuhan nasional diperkirakan hanya sekitar 65 juta DOC per minggu.
Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan kelebihan pasokan bibit ayam yang pada akhirnya dapat menekan harga di tingkat peternak, terutama pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Menurut Pardjuni, apabila Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berjalan penuh dan menggunakan daging ayam sebagai salah satu sumber protein utama, kuota impor GPS seperti tahun sebelumnya dinilai sudah mencukupi. Jika perlu penambahan, jumlahnya sebaiknya tidak melebihi 600.000 ekor.
Ia pun mengingatkan bahwa apabila kuota impor 800.000 ekor GPS benar-benar terealisasi pada 2026, maka risiko oversupply di industri perunggasan nasional berpotensi terjadi pada 2028 mendatang.





