Lambeturah.co.id - Sejumlah personel tentara Jepang tampak mendarat di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, pada Kamis (3/9/2026). Kedatangan pasukan militer luar negeri ini mengejutkan publik setelah video detik-detik pendaratan mereka beredar luas di media sosial.

Bukan dalam rangka misi militer, kehadiran pasukan tersebut merupakan bagian dari aksi kemanusiaan untuk membantu Pemerintah Indonesia menanggulangi bencana kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang menerjang wilayah Kalimantan Barat.

Dalam misi ini, Pemerintah Jepang mengerahkan sekitar 180 personel Japan Ground Self-Defense Force (JGSDF) yang dijadwalkan bertugas selama 21 hari. Tak tanggung-tanggung, armada berat seperti tiga unit helikopter CH-47 Chinook dan kapal angkut JS Kunisaki turut dikerahkan ke lokasi.

Seluruh helikopter dan personel Jepang tersebut akan beroperasi langsung di bawah kendali TNI dengan dukungan Pangkalan Udara (Lanud) Supadio.

Menteri Pertahanan RI, Sjafrie Sjamsoeddin, mengonfirmasi bahwa izin penerjun militer Jepang ini diberikan sebagai bentuk konkrit diplomasi pertahanan dan solidaritas antarnegara sahabat.

"Kerja sama pertahanan itu, kalau ada teman yang susah, dia balik membantu," ujar Sjafrie dalam Rapat Kerja bersama Komisi I DPR RI.

Sjafrie menjelaskan bahwa kerja sama pertahanan saat ini tidak lagi hanya seputar peningkatan kemampuan militer, melainkan mencakup Humanitarian Assistance and Disaster Relief (HADR) atau bantuan kemanusiaan dan penanggulangan bencana.

Meski menerima bantuan armada dari Negeri Sakura, Menhan menegaskan bahwa Indonesia pada dasarnya tetap memiliki kemampuan mandiri untuk mengatasi bencana nasional. Kehadiran bantuan asing bersifat komplementer atau melengkapi guna mempercepat proses pemadaman di lapangan.

"Dukungan negara sahabat penting untuk memperkuat penanganan di lapangan. Ini adalah bentuk semangat sense of responsibility atau tanggung jawab bersama ketika negara sahabat sedang menghadapi kesulitan," pungkasnya.

Tim pendahulu dari Jepang dilaporkan telah berkoordinasi intensif dengan TNI dan Satgas Karhutla guna memetakan titik api utama yang akan menjadi prioritas pemadaman udara.