Lambeturah.co.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump murka dengan laporan yang menyebut AS kekurangan amunisi dalam perang melawan Iran.

Trump menuding orang-orang dan media yang mempertanyakan pasokan amunisi AS sama saja sudah melakukan tindakan "pengkhianatan".

"Orang-orang dan media yang terus-menerus mengungkit fakta soal kita tidak memiliki amunisi (Dan mereka 100 persen keliru!), sebenarnya telah melakukan pengkhianatan," tuding Trump dalam postingan terbaru via akun media Truth Social, dikutip dari Anadolu Agency, Jumat (4/9/2026).

"Mereka melakukan hal itu karena lebih ingin melihat Amerika Serikat KALAH dalam perang, yang sebenarnya sedang kita MENANGKAN dengan mudah, daripada melihat saya MENANG," ucap Presiden AS tersebut.

Dalam postingan kedua, Trump menegaskan AS memiliki persediaan amunisi dalam jumlah yang "sebenarnya tak terbatas". Dia mengatakan jika AS tengah memproduksi amunisi pada "tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya".

"Bagi para pengkhianat busuk yang menolak untuk melaporkan secara akurat mengenai operasi militer kita di Iran, kita memiliki persediaan amunisi kelas menengah hingga kelas tinggi dalam jumlah yang sebenarnya tak terbatas, jauh melampaui apa pun yang mungkin kita butuhkan untuk operasi ini, atau untuk perang lainnya (yang kemungkinannya sangat kecil!) yang mungkin saja terjadi," sebutnya.

"Selain itu, kita sedang memproduksi amunisi dalam jumlah yang belum pernah ada sebelumnya. Kita sedang menimbun dan bersiap menghadapi segala kemungkinan situasi darurat," Kita mengamankan persediaan ini untuk kita sendiri, Amerika Serikat, alih-alih menjualnya kepada pihak lain, meskipun penjualan kepada negara-negara sekutu akan segera dimulai kembali," tegasnya.

Lebih lanjut, Trump mengkritik pemerintahan era Presiden AS Joe Biden terkait bantuan militer kepada Ukraina.

"Ratusan miliar dolar telah diberikan kepada Ukraina dan NATO, secara gratis, yang seharusnya ditanggung oleh Eropa," kritik Trump, sembari mengatakan bahwa pemerintahannya akan tetap meminta penggantian biaya bantuan militer itu dari negara-negara Eropa, meskipun "agak terlambat".