Lambeturah.co.id - Insiden menegangkan terjadi di wilayah perairan Sungai Mahakam, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Sebuah kapal ponton bermuatan batu bara dilaporkan lepas kendali dan menghantam permukiman warga di Jalan Gerbang Dayaku, RT 3, Desa Loa Duri Ulu, Kecamatan Loa Janan, Kamis (22/10/2026) sekitar pukul 14.30 WITA.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, tongkang batu bara tersebut diduga terlepas dari tali pengikatnya di kawasan hulu, tepatnya di sekitar Jembatan Mahulu berjarak sekitar 7 hingga 8 kilometer dari lokasi kejadian. Ponton yang tak terkendali itu kemudian hanyut terbawa derasnya arus sungai hingga merusak bangunan di kawasan depan SD 006 Loa Duri Ulu.
Ketua RT 3 Desa Loa Duri Ulu, Andre Mansah, mengonfirmasi insiden tersebut. Pihaknya pertama kali menerima kabar darurat dari relawan saat tengah menghadiri rapat desa.
“Waktu itu kami sedang rapat di desa. Setelah mendapat informasi dari relawan, kami mengetahui ada ponton hanyut yang mengarah ke kawasan rumah dan keramba warga,” ujar Andre saat dihubungi.
Kerusakan Parah dan Puluhan Jiwa Terdampak
Benturan keras kapal pengangkut batu bara tersebut mengakibatkan kerusakan masif pada fasilitas warga di sepanjang tepian sungai. Berdasarkan data awal, sekitar 4 hingga 5 unit rumah warga mengalami kerusakan parah. Tak hanya itu, benturan juga menghancurkan sedikitnya 20 petak keramba ikan milik dua kelompok warga, serta merusak sejumlah harta benda termasuk kendaraan roda dua.
Meskipun menghancurkan bangunan dan keramba, beruntung insiden ini tidak menelan korban jiwa. Kendati demikian, sekitar 20 jiwa dilaporkan terdampak dan terpaksa harus mengungsi sementara waktu.
“Yang jelas, kondisi beberapa rumah cukup parah. Untuk kerugian, kami belum bisa menyebutkan angkanya karena kerusakan bangunan, barang-barang warga, dan keramba masih harus dihitung satu per satu,” jelas Andre.
Saat ini, warga yang kehilangan tempat tinggal menumpang sementara di rumah kerabat dan tetangga terdekat.
Upaya Pendataan dan Langkah Mediasi
Pihak RT bersama pemerintah desa setempat fokus melakukan pendataan menyeluruh terkait total kerugian material yang dialami masyarakat terdampak. Pendataan ini menjadi dasar utama untuk langkah penanganan selanjutnya, termasuk proses mediasi dengan pihak pemilik atau pengelola kapal ponton tersebut.
“Kami akan kumpulkan dulu data kerusakan dan kerugian warga. Setelah itu, baru kami bicarakan langkah berikutnya bersama pemerintah setempat, termasuk kemungkinan mediasi dengan pihak perusahaan,” pungkas Andre.
Hingga berita ini diturunkan, kronologi lengkap serta penyebab pasti terlepasnya tongkang batu bara tersebut masih dalam penyelidikan pihak berwenang.





